This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 16 November 2015

ISPA pada Balita



ISPA adalah  Infeksi saluran pernapasan akut yang menyerang salah satu  atau lebih bagian saluran napas mulai hidung sampai alveoli termasuk  sinus, rongga telinga tengah, pleura. Penyakit ini banyak terjadi baik di negara maju maupun berkembang, di negara berkembang sekitar 156 juta balita terserang ISPA dan khususnya di Indonesia ISPA merupakan penyakit yang dalam dua dasawarsa terakhir ini menjadi urutan pertama dari 10 penyakit terbanyak yang diderita masyarakat Indonesia. Banyak sekali kasus ISPA yang menyerang balita di Indonesia selain karena faktor internal dari balita yaitu dimana pembentukan imunitas dalam tubuh balita belum terbentuk secara kuat sehingga rentan terhadap segala serangan penyakit, namun banyak faktor eksternal  yang juga mengakibatkan ISPA menyerang balita. Faktor luar yakni pengaruh lingkungan, karena dalam balita berinteraksi dan sepenuhnya hidup dalam sebuah lingkungan
Faktor pertama yaitu faktor tinggal dekat dengan orang yang merokok menyebabkan balita lebih rentan terkena ISPA yakni sekitar  3,333 kali lebih besar. Perokok yang mengeluarkan asap rokok bukan hanya membahayakan dirinya sendiri namun juga perokok pasif dalam hal ini adalah balita yang ada disekitarnya  asap tersebut mengandung bahan pencemar dan partikulat yang dapat merusak ketahanan lokal paru seperti kemampuan pembersihan mukolisiliaris.
Kedua, faktor Bahan bakar seperti kayu bakar atau sejenisnya juga termasuk dalam faktor  yang menjadi pemicu balita terserang ISPA. Penggunaan bahan bakar dapat menimbulkan keluarnya asap yang mengandung partikulat  yang berbahaya saat dihirup dan asap tsb mengakibatkan pencemaran udara terhadap pernapasan sehingga silia hidung bergerak lambat, kaku, dapat berhenti dan saluran pernapasan tidak mampu dibersihkan akibat terjadi iritasi. Hal tersebut mengakibatkan produksi lendir lebih tinggi hal itu menimbulkan saluran pernapasan menyempit dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernapasan sehingga akan terjadi kesulitan bernapas karena benda asing tertarik dan juga bakteri lain tidak dapat keluar dari saluran pernapasan. Sehingga, keadaan tersebut akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernapasan
Dari kelima jurnal, 3 diantaranya menyebutkna bahwa faktor kepadatan hunian juga berpengaruh dengan balita terserang ISPA. Kepadatan penghuni dalam satu rumah misalkan rumah dengan banyak anak ataupun satu rumah untuk 2 atau lebih keluarga maka dapat mempermudah proses transmisi penyakit terhadap penghuni lain.
Selain ketiga hal diatas, anak balita yang tinggal di lingkungan dengan suhu ruangan yang kurang memenuhi standar sebesar 2,435 kali lebih tinggi untuk dapat terserang ISPA. Suhu yang sesuai adalah sekitar 18-200 C, jika terlalu rendah dapat menyebabkan hypothermia sedangkan jika terlalu tinggi dapat menyebabkan dehidrasi sampai dengan heat stroke (Permenkes No.1077,2011).
Sebesar 4,243 kali lebih tinggi anak balita yang tinggal di rumah yang menggunakan obat anti nyamuk bakar atau semprot (aerosol) memiliki resiko terkena ISPA. Hal tersebut dapat mengakibatkan gangguan saluran pernapasan.
            Jendela, ventilasi udara, pencahayaan ruangan  merupakan komponen rumah yang juga dapat menyebabkan ISPA pada balita. Jika ketiganya kurang baik balita akan lebih mudah terserah ISPA, jendela berfungsi sebagai ventilasi untuk tempat keluar masuk udara dan sebagai tempat masuknya cahaya matahari, jika ventilasi buruk maka udara segar akan sulit masuk begitu sebaliknya sehingga tidak ada pertukaran udara sehingga bakteri penyebab ISPA yang ada di rumah tidak dapat keluar. Jika pencahayaan alami rumah kurang maka rumah  tidak mempunyai jalan masuk cahaya matahari dari arah barat dan timur sekurang-kurangnya 15%-20% dari luas lantai yang terdapat didalam rumah. Padahal hal tersebut penting dan berguna untuk pencahayaan, sinar ini juga mengurangi kelembaban ruangan, mengusir nyamuk atau serangga lainnya dan membunuh kuman penyebab penyakit tertentu.
            Kejadian ISPA 2,957 kali lebih berisiko pada balita dengan sarana sanitasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan dibandingkan pada balita dengan sarana sanitas yang memenuhi syarat. Ada hubungan antara sanitasi yang buruk dalam rumah yang dapat menyebabkan kejadian infeksi saluran pernapasan akut. Tempat sampah yang merupakan salah satu sarana sanitasi dapat menjadi sumber mikroorganisme dari dalam rumah. Oleh karena itu, tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan yaitu harus tertutup dan kedap air.
            Faktor yang berikutnya yaitu kualitas total koloni mikroorganisme dan total koloni bakteri, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa jika udara tak dapat bertukar (ventilasi tak memadai) maka bakteri juga akan menetap dalam rumah dan ini mengakibatkan perkumpulan jamur dan bakteri yang akan mengakibatkan balita dengan mudahnya terserang ISPA.
            Sedangkan  dalam penelitian untuk variable kelembapan udara dan jenis lantai rumah tidak terbukti yang termasuk ke dalam faktor yang menyebabkan ISPA pada balita karena Kelembaban adalah presentasi jumlah air di udara atau uap air dalam udara. Walaupun ada penelitian yang menyebutkan bahwa kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membrane mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme sehingga lebih mudah terkena infeksi saluran pernapasan, namun kelembaban juga menunjukkan tidak ada hubungan dengan kejadian ISPA pada balita.
Kemudian tidak ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian ispa karena dari penelitian tersebut mayoritas objek penelitian sudah menggunakan jenis lantai tehel/keramik, Hal ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Keman dan Safitri (2007) tentang hubungan tingkat kesehatan rumah dengan kejadian ispa pada anak balita di Desa Labuan Kecamatan Labuan Badas Kabupaten Sumbawa yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian ISPA.
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya suatu penyakit. Lingkungan yang dimaksud dalam hal ini adalah lingkungan fisik berupa rumah. Rumah merupakan salah satu faktor yang tampak oleh mata dan dapat dilakukan penilaian tentang kesehatannya. Lingkungan yang buruk tentu akan mengganggu Kondisi lingkungan yang tidak sehat juga akan meningkatkan agent penyebab penyakit untuk berkembang biak dan akan memudahkan proses penularan penyakit yang dalam hal ini adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).