ISPA
adalah Infeksi saluran pernapasan akut
yang menyerang salah satu atau lebih
bagian saluran napas mulai hidung sampai alveoli termasuk sinus, rongga telinga tengah, pleura.
Penyakit ini banyak terjadi baik di negara maju maupun berkembang, di negara
berkembang sekitar 156 juta balita terserang ISPA dan khususnya di Indonesia
ISPA merupakan penyakit yang dalam dua dasawarsa terakhir ini menjadi urutan
pertama dari 10 penyakit terbanyak yang diderita masyarakat Indonesia. Banyak
sekali kasus ISPA yang menyerang balita di Indonesia selain karena faktor
internal dari balita yaitu dimana pembentukan imunitas dalam tubuh balita belum
terbentuk secara kuat sehingga rentan terhadap segala serangan penyakit, namun
banyak faktor eksternal yang juga mengakibatkan
ISPA menyerang balita. Faktor luar yakni pengaruh lingkungan, karena dalam
balita berinteraksi dan sepenuhnya hidup dalam sebuah lingkungan
Faktor pertama yaitu faktor tinggal
dekat dengan orang yang merokok menyebabkan balita lebih rentan terkena ISPA
yakni sekitar 3,333 kali lebih besar.
Perokok yang mengeluarkan asap rokok bukan hanya membahayakan dirinya sendiri
namun juga perokok pasif dalam hal ini adalah balita yang ada disekitarnya asap tersebut mengandung bahan pencemar dan
partikulat yang dapat merusak ketahanan lokal paru seperti kemampuan
pembersihan mukolisiliaris.
Kedua,
faktor Bahan bakar seperti kayu bakar atau sejenisnya juga termasuk dalam
faktor yang menjadi pemicu balita
terserang ISPA. Penggunaan bahan bakar dapat menimbulkan keluarnya asap yang
mengandung partikulat yang berbahaya
saat dihirup dan asap tsb mengakibatkan pencemaran udara terhadap pernapasan
sehingga silia hidung bergerak lambat, kaku, dapat berhenti dan saluran
pernapasan tidak mampu dibersihkan akibat terjadi iritasi. Hal tersebut
mengakibatkan produksi lendir lebih tinggi hal itu menimbulkan saluran
pernapasan menyempit dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernapasan
sehingga akan terjadi kesulitan bernapas karena benda asing tertarik dan juga
bakteri lain tidak dapat keluar dari saluran pernapasan. Sehingga, keadaan
tersebut akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernapasan
Dari
kelima jurnal, 3 diantaranya menyebutkna bahwa faktor kepadatan hunian juga
berpengaruh dengan balita terserang ISPA. Kepadatan penghuni dalam satu rumah
misalkan rumah dengan banyak anak ataupun satu rumah untuk 2 atau lebih
keluarga maka dapat mempermudah proses transmisi penyakit terhadap penghuni
lain.
Selain ketiga hal diatas, anak balita yang tinggal di
lingkungan dengan suhu ruangan yang kurang memenuhi standar sebesar 2,435 kali
lebih tinggi untuk dapat terserang ISPA. Suhu yang sesuai adalah sekitar 18-200
C, jika terlalu rendah dapat menyebabkan hypothermia sedangkan jika terlalu
tinggi dapat menyebabkan dehidrasi sampai dengan heat stroke (Permenkes
No.1077,2011).
Sebesar
4,243 kali lebih tinggi anak balita yang tinggal di rumah yang menggunakan obat
anti nyamuk bakar atau semprot (aerosol) memiliki resiko terkena ISPA. Hal
tersebut dapat mengakibatkan gangguan saluran pernapasan.
Jendela, ventilasi udara,
pencahayaan ruangan merupakan komponen
rumah yang juga dapat menyebabkan ISPA pada balita. Jika ketiganya kurang baik
balita akan lebih mudah terserah ISPA, jendela berfungsi sebagai ventilasi
untuk tempat keluar masuk udara dan sebagai tempat masuknya cahaya matahari,
jika ventilasi buruk maka udara segar akan sulit masuk begitu sebaliknya
sehingga tidak ada pertukaran udara sehingga bakteri penyebab ISPA yang ada di
rumah tidak dapat keluar. Jika pencahayaan alami rumah kurang maka rumah tidak mempunyai jalan masuk cahaya matahari
dari arah barat dan timur sekurang-kurangnya 15%-20% dari luas lantai yang
terdapat didalam rumah. Padahal hal tersebut penting dan berguna untuk
pencahayaan, sinar ini juga mengurangi kelembaban ruangan, mengusir nyamuk atau
serangga lainnya dan membunuh kuman penyebab penyakit tertentu.
Kejadian
ISPA 2,957 kali lebih berisiko pada balita dengan sarana sanitasi yang tidak
memenuhi syarat kesehatan dibandingkan pada balita dengan sarana sanitas yang
memenuhi syarat. Ada hubungan antara sanitasi yang buruk dalam rumah yang dapat
menyebabkan kejadian infeksi saluran pernapasan akut. Tempat sampah yang
merupakan salah satu sarana sanitasi dapat menjadi sumber mikroorganisme dari
dalam rumah. Oleh karena itu, tempat sampah yang memenuhi syarat kesehatan
yaitu harus tertutup dan kedap air.
Faktor yang
berikutnya yaitu kualitas total koloni mikroorganisme dan total koloni bakteri,
seperti yang telah disebutkan diatas bahwa jika udara tak dapat bertukar
(ventilasi tak memadai) maka bakteri juga akan menetap dalam rumah dan ini
mengakibatkan perkumpulan jamur dan bakteri yang akan
mengakibatkan balita dengan mudahnya terserang ISPA.
Sedangkan dalam penelitian untuk variable kelembapan
udara dan jenis lantai rumah tidak terbukti yang termasuk ke dalam faktor yang
menyebabkan ISPA pada balita karena Kelembaban
adalah presentasi jumlah air di udara atau uap air dalam udara. Walaupun ada
penelitian yang menyebutkan bahwa kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan
membrane mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang
mikroorganisme sehingga lebih mudah terkena infeksi saluran pernapasan,
namun kelembaban juga menunjukkan tidak ada hubungan dengan kejadian ISPA pada
balita.
Kemudian
tidak ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian ispa karena dari
penelitian tersebut mayoritas objek penelitian sudah menggunakan jenis lantai
tehel/keramik, Hal ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Keman dan
Safitri (2007) tentang hubungan tingkat kesehatan rumah dengan kejadian ispa
pada anak balita di Desa Labuan Kecamatan Labuan Badas Kabupaten Sumbawa yang
membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian
ISPA.
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan terjadinya suatu penyakit. Lingkungan yang dimaksud dalam hal ini
adalah lingkungan fisik berupa rumah. Rumah merupakan salah satu faktor yang
tampak oleh mata dan dapat dilakukan penilaian tentang kesehatannya. Lingkungan
yang buruk tentu akan mengganggu Kondisi lingkungan yang tidak sehat juga akan
meningkatkan agent penyebab penyakit untuk berkembang biak dan akan
memudahkan proses penularan penyakit yang dalam hal ini adalah infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA).











