
Dalam masyarakat dikenal dua obat-obatan yang berbeda sumber dan proses pembuatannya, namun
mempunyai khasiat yang sama yaitu untuk mengobati batuk pilek. Kedua obat
tersebut adalah obat tradisional dan obat berbahan kimia atau obat modern.Batuk
dalam bahasa latin disebut tussis yaitu refleks yang dapat terjadi secara tiba-tiba
dan sering berulang-ulang yang bertujuan untuk membantu membersihkan saluran
pernapasan dari lendir besar, iritasi, partikel asing dan mikroba. Batuk
terjadi karena rangsangan tertentu, misalnya debu di reseptor batuk (hidung, saluran pernapasan, bahkan telinga). Kemudian
reseptor akan mengalirkan lewat syaraf ke pusat batuk yang berada di otak. Di sini akan memberi sinyal kepada otot-otot tubuh untuk mengeluarkan benda asing tadi,
hingga terjadilah batuk. Penyebab lain dari batuk antara lain infeksi di saluran
pernapasan bagian atas yang merupakan gejala flu ( ISPA ),
Alergi, Asma atau tuberkulosis, benda asing yang masuk ke dalam saluran napas,
tersedak akibat minum susu, menghirup asap rokok dari orang sekitar, masalah
emosi dan psikologis (untuk batuk psikogenik ).(1) Batuk dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu batuk
akut dan batuk
kronis, keduanya dikelompokkan berdasarkan
waktu.Batuk akut adalah batuk yang berlangsung kurang dari 14 hari, serta dalam
1 episode. Bila batuk sudah lebih dari 14 hari atau terjadi dalam 3 episode
selama 3 bulan berturut-turut, disebut batuk
kronis atau batuk kronis berulang.Batuk
kronis berulang yang sering menyerang anak-anak adalah karena asma, tuberkolosis (TB), dan pertusis (batuk rejan/batuk 100
hari).Berdasarkan dahak yang dikeluarkan batuk dibedakan menjadi dua yaitu
batuk kering dan batuk berdahak. Sementara itu, Pilek adalah penyakit infeksi
saluran pernapasan atas (ISPA) yang paling sering terjadi di seluruh dunia.
Pilek adalah penyakit yang sembuh sendiri (self-limiting) yang disebabkan oleh
salah satu dari 200-an virus. Pilek biasa menghasilkan gejala ringan yang hanya
berlangsung 5-10 hari. Keluhan yang paling umum adalah ingusan, bersin,
penyumbatan hidung, sakit kepala, sakit tenggorokan dan batuk. Sebaliknya, flu
(influenza), yang disebabkan oleh virus dari kelas yang berbeda, dapat memiliki
gejala yang parah. Batuk dan pilek biasanya timbul sebagai gejala sebuah
penyakit yang bernama Flu.
Secara umum,berdasarkan sumber dan proses
pembuatannya terdapat dua jenis obat yang digunakan untuk menyembuhkan batuk
dan pilek. Kedua jenis obat tersebut adalah obat tradisional dan obat kimia
modern. Obat tradisional merupakan obat yang bersumber dari bahan-bahan atau tumbuhan-tumbuhan
herbal dan alami. Obat jenis ini di proses dengan cara yang konvensional. Obat
tradisional merupakan obat yang secara turun temurun diwariskan dan digunakan
oleh masyarakat untuk mengobati sebuah penyakit. Biasanya, di setiap daerah di Indonesia mempunyai obat tradisional yang mempunyai sumber dan
ciri khas masing – masing. Obat tradisional untuk batuk
juga terdapat di setiap daerah di nusantara. Di daerah tempat tinggal saya
yaitu daerah Jawa tengah banyak terdapat obat-obatan tradisional yang berguna menyembuhkan batuk antara
lain jahe, jeruk nipis, kencur, kunyit, dll. Yang kedua adalah obat batuk yang
berbahan kimia atau disebut juga obat modern. Obat kimia sendiri mempunyai
berbagai macam jenis antara lain ekspektoran, mukolitik, dll.Jenis obat manakah yang lebih cocok untuk digunakan pada
penderita batuk pada umumnya dan manakah yang lebih aman digunakan oleh masyarakat?
Bahan-bahan alami
yang jumlahnya mencapai 90 tumbuhan
herbal dan digunakan masyarakat
Desa Trunyan sebagai obat tradisional untuk berbagai macam penyakit, salah
satunya adalah batuk. Terdapat beberapa bahan yang digunakan masyarakat
Desa Trunyan untuk mengobati batuk.(2) Bahan pertama adalah Bangle
atau Zingiber cassumunar dengan kandungan senyawa Albuminoid, sineol, pinen dan
sesquiterpen. Bahan kedua adalah Jahe atau Zingiber officinale dengan kandungan senyawa Minyak atsiri,
zingeton, zingibetol, zingiberin, borneol dan sineol. Bahan ketiga adalah
kunyit atau Curcuma demostica dengan kandungan senyawa kimia Minyak atsiri,
kurkuminoid dan kurkumin. Bahan keempat adalah Kencur atau Kaemfperia galanga
dengan kandungan senyawa Minyak atsiri, borneol, kamfer, sineol dan etil
alcohol, dan masih banyak lagi bahan – bahan alami yang berkhasiat untuk
menyembuhkan penyakit batuk. Penelitian terhadap berbagai macam tumbuhan obat
oleh Sang Ketut Sudirga ini cukup akurat karena menggunakan metode penelitian
yang cukup lengkap dan memenuhi syarat yaitu dengan melakukan wawancara
langsung, lalu melakukan observasi, dan yang terakhir dengan mengkaji melalui
studi pustaka, dan data yang disajikan pun sangat runtut dengan menggunakan
tabel. Namun, terdapat beberapa kelemahan yang menurut saya cukup penting
sebagai bagian dari sebuah penelitian obat diantaranya adalah tidak
disajikannya proses atau cara pembuatan obat - obat herbal tersebut, dan tidak
dicantumkannya cuplikan wawancara kepada masayarakat sebagai bukti bahwa benar
– benar telah dilakukannya metode penelitian tersebut.
Sedangkan di jurnal lain menyebutkan bahwa di
suatu daerah yakni Desa Ciwalen perilaku masyarakatnya dengan mengobati sendiri
penyakit tanpa harus repot- repot pergi
ke dokter dan salah satunya adalah menggunakan obat tradisional mereka sendiri.(3) Dengan lebih banyak menggunakan metode
penelitian dengan wawancara langsung kepada masyarakat di Desa Ciwalen, Sudibyo
Supardi dan Mulyono Notosiswoyo berhasil mendapatkan informasi- informasi yang
jelas dan dapat dijadikan sumber untuk membuat jurnal penelitian yang akurat.
Informasi -informasi yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap 12 orang
informan kunci yang mewakili pemerintahan (ketua RT dan ketua RW), pendidikan
(guru SD), pedagang (pemilik warung yang menjual obat), kader kesehatan dan ibu
rumah tangga
Diantaranya adalah Konsep Sehat – Sakit yang
memuat pengertian sehat menurut beberapa informan dan juga perbedaan antara
sakit ringan dan sakit berat yang disajikan dengan cuplikan wawancara langsung
terhadap informan, kemudian yang selanjutnya adalah sakit kepala, pendapat para
informan mengenai sakit kepala sangat beragam, informan memaparkan jenis –
jenis sakit kepala menurut mereka, penyebab – penyebabnya, pencegahannya, dan
juga obat – obatnya. Lalu dipaparkan pengertian dan pencegahan penyakit demam.
Selanjutnya adalah penyakit batuk. Pada
bagian ini lebih banyak diungkapkan pendapat – pendapat informan tentang TBC (
tuberculosis ) serta penyebab dan pengobatannya. Yang menarik pada bagian ini
adalah dipaparkannya obat tradisional sebagai pengobatan sendiri oleh
masyarakat di daerah sana. Wawancara yang dilakukan terhadap seorang guru SD
disana mengungkapkan salah satu obat tradisional untuk penyakit batuk ringan
adalah air perasan jeruk nipis dicampur
kecap, daun sirih 5 lembar diseduh dengan air hangat setengah gelas atau
rebusan jahe dengan gula merah. Bagian terakhir adalah sakit pilek. Pada bagian
ini dipaparkan gejala – gejala, penyebab, serta pencegahan sakit pilek. Obat
tradisional yang digunakan pada penyakit pilek ini adalah minyak kelapa yang
dioleskan pada bagian bawah hidung agar hidung tidak tersumbat atau mampet.
Jurnal penelitian ini mempunyai beberapa kelebihan diantaranya adalah jurnal
ini mempunyai struktur yang baik karena setelah menjelaskan suatu masalah,
diberikan bukti nyata yaitu cuplikan wawancara dari beberapa informan. Kemudian
jurnal ini juga mempunyai manfaat yang besar yaitu dapat dijadikan pedoman
pemerintah untuk memperbaiki kesehatan masyarakat di Desa Ciwalen tersebut.
Jurnal ini mempunyai pendahuluan yang cukup informatif karena memaparkan
bagaimana ssejarah penyakit itu dan apa saja yang berkaitan dengan penyakit
pada umumnya. Selain itu, pemaparan tentang obat batuk dari jeruk nipis juga
dijelaskan secara rinci. Walaupun masalah tentang obat tradisional kurang
banyak dibahas, namun menurut saya jurnal ini sangat patut dipelajari baik oleh
masyarakat awam maupun aparat pemerintahan sekitar.
Dalam sumber lain pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara
dan observasi langsung terhadap masyarakat lokol Suku Muna di Kecamatan
Wakarumba. Dari hasil wawancara ahli pengobatan tradisional ( dukun ) dan
penduduk lokal, didapatkan hasil bahwa terdapat sekitar 61 jenis tumbuhan yang
dimanfaatkan sebagai obat herbal daerah tersebut, salah satunya adalah sebagai
obat batuk. Salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat batuk adalah
Towulambe dengan nama latin Saccharum spontaneum. Pemanfaatan tumbuhan ini dengan cara mengunyah
dan menghisap air dari umbut tanaman Towulambe tersebut. Selain towulambe,
tanaman lain yang dimanfaatkan sebagai obat batuk adalah buamalaka, dan
kambadawa.(4)
Jurnal ini menyajikan data dengan tabel yang singkat, jelas, dan
disertai dengan proses penggunaan obatnya sehingga cukup menarik untuk dibaca.
Selain itu, dipaparkan bahwa obat tradisional masyarakat Lokal Suku Muna tidak
memiliki efek samping yang berbahaya bagi manusia.
Di masyarakat ada juga masalah penggunaan produk obat
Common Cold masyarakat tanpa melalui resep yang diberikan dokter. Dijelaskan
bahwa Common Cold merupakan obat yang dijual bebas di pasaran dan fungsinya
hanya meringankan gejala flu yaitu batuk dan pilek.(5) Penelitian ini
bukan termasuk penelitian eksperimental melainkan menggunakan metode survei dengan
cara membagikan kuisioner kepada para responden yaitu masyarakat Desa
Karanggondang Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Data-data yang telah
dikumpulkan disajikan dengan lengkap sesuai dengan kaidah statistika. Penelitian
dilakukan berdasarkan karakteristik responden yang terdiri dari jenis kelamin,
usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, bidang pekerjaan, serta penghasilan
para responden. Gambaran pengobatan sendiri pada obat Common Cold yaitu Frekuensi menderita Common Cold, Tindakan ketika menderita Common Cold, Alasan melakukan pengobatan sendiri, Dasar
pemilihan obat, dan Sumber informasi. Disajikan juga evaluasi penggunaan
obat-obat Common Cold. Dari data yang
didapatkan penulis menyimpulkan bahwa diatas 50% responden melakukan pengobatan
menggunakan obat Common Cold tanpa melalui dokter. Letak keunggulan dari jurnal
ini adalah bahwa penulis tidak hanya menyajikan data yang diperolehnya namun
juga memberikan pendapat pribadinya yang dicantumkan pada bagian saran.
Pendapat penulis menurut saya benar, singkat, dan jelas. Ia menyarankan bahwa Pemerintah
perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai penggunaan obat Common Cold pada pengobatan sendiri yang harus
memenuhi kriteria tepat indikasi, tepat
obat, tepat pasien, tepat dosis serta waspada efek samping obat, serta perlu
dilakukan penelitian tentang kerasionalan pengobatn sendiri pada obat Common
Cold. Pengobatan sendiri terhadap batuk dengan menggunakan obat Common Cold
menurut saya juga kurang masuk akal karena belum ada bukti langsung dari dokter
atau ahli kesehatan tentang keberhasilan penggunaan obat tersebut.
Jurnal ini juga menekankan bahwa batuk pilek adalah penyakit yang dapat sembuh
dengan sendirinya.
Masalah penggunaan kombinasi obat batuk pilek dalam masyarakat. metode penelitian yang
dilakukan penulis adalah pengumpulan data dengan melakukan studi pustaka.
Disajikan tabel data yang menunjukkan kandungan serta komposisi dalam berbagai
kombinasi obat batuk pilek yang berbahan kimia. Sama seperti jurnal pertama
tadi, jurnal ini juga menyoroti perkembangan penggunaan sendiri obat batuk
pilek yang terjual di apotek maupun toko kelontong. Obat-obat tadi mengandung beberapa bahan aktif
diantaranya adalah Analgesik dan
antipiretik, Antihistamin, Dekongestan, Antitusif, Ekspektoran mukolitik, serta
Stimulan-Kafein.(1) Secara ilmiah jurnal ini
menarik untuk dibaca. Penulis tidak berpihak pada obat batuk yang berbahan
kimia. Hal itu terlihat pada kesimpulan yang menyatakan bahwa penyakit flu atau
batuk pilek adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri, maka penggunaan obat-obatan kimia tidak perlu
dilakukan. Selain itu, penulis juga memaparkan bahwa penggunaan obat kimia
seperti antibiotik belum terbukti kebenarannya. Bahkan bila obat-obatan kimia yang
digunakan tidak cocok, maka akan menimbulkan efek samping yang negatif bagi
pengguna. Pemaparan penulis tadi sangat positif
karena memang obat kimia mempunyai efek samping yang tidak sedikit.
Namun, saya kurang setuju dengan penjelasan yang terlalu rumit oleh penulis
karena orang yang awam tentang masalah ilmiah akan sulit mempelajarinya.
Dalam jurnal lain dijelaskan berbagai macam hal tentang batuk kronik
yang dialami anak pada usia dibawah 12 tahun.(6) Termasuk juga dijelaskan tentang penggunaan
antibiotik pada anak penderita batuk kronik. Batuk merupakan mekanisme pertahanan
tubuh khususnya respiratorik yang harus dikelola dengan baik. Penekanan pada
jurnal penelitian ini adalah dibutuhkannya pertimbangan penggunaan obat batuk
kimia sesuai dengan usia penderita batuk kronik. Jurnal penelitian ini disusun
secara baik dengan menampilkan tabel etiologi batuk kronik berdasarkan usia.
Pada usia tertentu dan pada penyakit batuk yang ringan penyakit batuk pilek
dapat sembuh dengan sendirinya.
Setelah
mengulas tiga jurnal penelitian tentang obat batuk tradisional serta tiga jurnal
penelitian tentang obat batuk yang berbahan kimia, dapat kita peroleh sebuah
hasil bahwa penyakit batuk dan pilek dapat disembuhkan dengan obat tradisional
maupun obat kimia. Namun, sebenarnya penyakit batuk pilek adalah penyakit yang
dapat sembuh sendiri. Di dalam tubuh manusia sudah terdapat sistem kekebalan
tubuh yang dapat menangkal penyakit, maka manusia harus melatih sistem
kekebalan tubuhnya bekerja dengan cara tidak mengonsumsi obat dari luar.
Obat batuk
tradisional dibuat dari bahan alami sehingga tidak mempunyai efek samping
misalnya saja jahe dan jeruk nipis. Sedangkan obat batuk yang berbahan kimia
mempunyai efek samping yang jika dikonsumsi terus menerus akan dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan pengguna
obat tersebut seperti mukolitik dan antitusif. Oleh karena itu menurut saya, obat tradisional dirasa paling cocok digunakan
untuk mengobati batuk pilek karena selain tidak memiliki efek samping, obat
batuk tradisional juga mudah didapatkan dan terjangkau oleh masyarakat. Penggunaan obat pada penyakit batuk pilek yang
ringan sebenarnya tidak dianjurkan. Jika memang ingin mengobati, obat yang
paling cocok adalah obat tradisional bukan obat yang berbahan kimia. Penggunaan
obat kimia diperbolehkan untuk penyakit batuk yang sudah sedang ataupun berat
dan harus melalui saran dan resep dari dokter.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Gitawati
R. BAHAN AKTIF DALAM KOMBINASI OBAT FLU DAN BATUK-PILEK , DAN PEMILIHAN OBAT
FLU YANG ACTIVE INGREDIENTS IN COMMON COLD FIXED-DOSE COMBINATION PRODUCTS AND.
2014;24(1):10–8.
2. Udayana
U. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional di desa trunyan kecamatan
kintamani kabupaten bangli. 1992;7–18.
3. Dan B,
Pada P, Di M, Ciwalen D, Warungkondang K, Cianjur K, et al. Sudibyo Supardi dan
Mulyono Notosiswoyo. 2005;II(3):134–44.
4. People
M, Wakarumba SD, Muna D. Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Bahan Obat oleh
Masyarakat Lokal Suku Muna di Kecamatan Wakarumba , Kabupaten Muna , Sulawesi
Tenggara. 2006;7:333–9.
5. Penggunaan
E, Commond O, Pada C, Sendiri P, Desa M, Kecamatan K, et al. Evaluasi
penggunaan obat commond cold pada pengobatan sendiri di masyarakat desa
karanggondang kecamatan mlogo kabupaten jepara. 25:18–25.
6. Supriyatno
B. Batuk Kronik pada Anak. 2010;60:285–8.