Jumat, 30 Oktober 2015

Pemilihan Obat Batuk atau Pilek yang Efektif



Dalam masyarakat dikenal dua obat-obatan yang berbeda sumber dan proses pembuatannya, namun mempunyai khasiat yang sama yaitu untuk mengobati batuk pilek. Kedua obat tersebut adalah obat tradisional dan obat berbahan kimia atau obat modern.Batuk dalam bahasa latin disebut tussis yaitu refleks yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan sering berulang-ulang yang bertujuan untuk membantu membersihkan saluran pernapasan dari lendir besar, iritasi, partikel asing dan mikroba. Batuk terjadi karena rangsangan tertentu, misalnya debu di reseptor batuk (hidung, saluran pernapasan, bahkan telinga). Kemudian reseptor akan mengalirkan lewat syaraf ke pusat batuk yang berada di otak. Di sini akan memberi sinyal kepada otot-otot  tubuh untuk mengeluarkan benda asing tadi, hingga terjadilah batuk. Penyebab lain dari batuk antara lain infeksi di saluran pernapasan bagian atas yang merupakan gejala flu ( ISPA ), Alergi, Asma atau tuberkulosis, benda asing yang masuk ke dalam saluran napas, tersedak akibat minum susu, menghirup asap rokok dari orang sekitar, masalah emosi dan psikologis (untuk batuk psikogenik ).(1) Batuk dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu batuk akut dan batuk kronis, keduanya dikelompokkan berdasarkan waktu.Batuk akut adalah batuk yang berlangsung kurang dari 14 hari, serta dalam 1 episode. Bila batuk sudah lebih dari 14 hari atau terjadi dalam 3 episode selama 3 bulan berturut-turut, disebut batuk kronis atau batuk kronis berulang.Batuk kronis berulang yang sering menyerang anak-anak adalah karena asma, tuberkolosis (TB), dan pertusis (batuk rejan/batuk 100 hari).Berdasarkan dahak yang dikeluarkan batuk dibedakan menjadi dua yaitu batuk kering dan batuk berdahak. Sementara itu, Pilek adalah penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang paling sering terjadi di seluruh dunia. Pilek adalah penyakit yang sembuh sendiri (self-limiting) yang disebabkan oleh salah satu dari 200-an virus. Pilek biasa menghasilkan gejala ringan yang hanya berlangsung 5-10 hari. Keluhan yang paling umum adalah ingusan, bersin, penyumbatan hidung, sakit kepala, sakit tenggorokan dan batuk. Sebaliknya, flu (influenza), yang disebabkan oleh virus dari kelas yang berbeda, dapat memiliki gejala yang parah. Batuk dan pilek biasanya timbul sebagai gejala sebuah penyakit yang bernama Flu.
Secara umum,berdasarkan sumber dan proses pembuatannya terdapat dua jenis obat yang digunakan untuk menyembuhkan batuk dan pilek. Kedua jenis obat tersebut adalah obat tradisional dan obat kimia modern. Obat tradisional merupakan obat yang bersumber dari bahan-bahan atau tumbuhan-tumbuhan herbal dan alami. Obat jenis ini di proses dengan cara yang konvensional. Obat tradisional merupakan obat yang secara turun temurun diwariskan dan digunakan oleh masyarakat untuk mengobati sebuah penyakit. Biasanya, di setiap daerah di Indonesia mempunyai obat tradisional yang mempunyai sumber dan ciri khas masing – masing. Obat tradisional untuk batuk juga terdapat di setiap daerah di nusantara. Di daerah tempat tinggal saya yaitu daerah Jawa tengah banyak terdapat obat-obatan tradisional yang berguna menyembuhkan batuk antara lain jahe, jeruk nipis, kencur, kunyit, dll. Yang kedua adalah obat batuk yang berbahan kimia atau disebut juga obat modern. Obat kimia sendiri mempunyai berbagai macam jenis antara lain ekspektoran, mukolitik, dll.Jenis obat manakah yang lebih cocok untuk digunakan pada penderita batuk pada umumnya dan manakah yang lebih aman digunakan oleh masyarakat?
Bahan-bahan alami yang  jumlahnya mencapai 90 tumbuhan herbal dan digunakan masyarakat Desa Trunyan sebagai obat tradisional untuk berbagai macam penyakit, salah satunya adalah batuk. Terdapat beberapa bahan yang digunakan masyarakat Desa Trunyan untuk mengobati batuk.(2) Bahan pertama adalah Bangle atau Zingiber cassumunar dengan kandungan senyawa Albuminoid, sineol, pinen dan sesquiterpen. Bahan kedua adalah Jahe atau Zingiber officinale dengan kandungan senyawa Minyak atsiri, zingeton, zingibetol, zingiberin, borneol dan sineol. Bahan ketiga adalah kunyit atau Curcuma demostica dengan kandungan senyawa kimia Minyak atsiri, kurkuminoid dan kurkumin. Bahan keempat adalah Kencur atau Kaemfperia galanga dengan kandungan senyawa Minyak atsiri, borneol, kamfer, sineol dan etil alcohol, dan masih banyak lagi bahan – bahan alami yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit batuk. Penelitian terhadap berbagai macam tumbuhan obat oleh Sang Ketut Sudirga ini cukup akurat karena menggunakan metode penelitian yang cukup lengkap dan memenuhi syarat yaitu dengan melakukan wawancara langsung, lalu melakukan observasi, dan yang terakhir dengan mengkaji melalui studi pustaka, dan data yang disajikan pun sangat runtut dengan menggunakan tabel. Namun, terdapat beberapa kelemahan yang menurut saya cukup penting sebagai bagian dari sebuah penelitian obat diantaranya adalah tidak disajikannya proses atau cara pembuatan obat - obat herbal tersebut, dan tidak dicantumkannya cuplikan wawancara kepada masayarakat sebagai bukti bahwa benar – benar telah dilakukannya metode penelitian tersebut.

 Sedangkan di jurnal lain menyebutkan bahwa di suatu daerah yakni Desa Ciwalen perilaku masyarakatnya dengan mengobati sendiri penyakit  tanpa harus repot- repot pergi ke dokter dan salah satunya adalah menggunakan obat tradisional mereka sendiri.(3) Dengan lebih banyak menggunakan metode penelitian dengan wawancara langsung kepada masyarakat di Desa Ciwalen, Sudibyo Supardi dan Mulyono Notosiswoyo berhasil mendapatkan informasi- informasi yang jelas dan dapat dijadikan sumber untuk membuat jurnal penelitian yang akurat. Informasi -informasi yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap 12 orang informan kunci yang mewakili pemerintahan (ketua RT dan ketua RW), pendidikan (guru SD), pedagang (pemilik warung yang menjual obat), kader kesehatan dan ibu rumah tangga
Diantaranya adalah Konsep Sehat – Sakit yang memuat pengertian sehat menurut beberapa informan dan juga perbedaan antara sakit ringan dan sakit berat yang disajikan dengan cuplikan wawancara langsung terhadap informan, kemudian yang selanjutnya adalah sakit kepala, pendapat para informan mengenai sakit kepala sangat beragam, informan memaparkan jenis – jenis sakit kepala menurut mereka, penyebab – penyebabnya, pencegahannya, dan juga obat – obatnya. Lalu dipaparkan pengertian dan pencegahan penyakit demam. Selanjutnya adalah penyakit batuk.  Pada bagian ini lebih banyak diungkapkan pendapat – pendapat informan tentang TBC ( tuberculosis ) serta penyebab dan pengobatannya. Yang menarik pada bagian ini adalah dipaparkannya obat tradisional sebagai pengobatan sendiri oleh masyarakat di daerah sana. Wawancara yang dilakukan terhadap seorang guru SD disana mengungkapkan salah satu obat tradisional untuk penyakit batuk ringan adalah air perasan jeruk nipis dicampur kecap, daun sirih 5 lembar diseduh dengan air hangat setengah gelas atau rebusan jahe dengan gula merah. Bagian terakhir adalah sakit pilek. Pada bagian ini dipaparkan gejala – gejala, penyebab, serta pencegahan sakit pilek. Obat tradisional yang digunakan pada penyakit pilek ini adalah minyak kelapa yang dioleskan pada bagian bawah hidung agar hidung tidak tersumbat atau mampet. Jurnal penelitian ini mempunyai beberapa kelebihan diantaranya adalah jurnal ini mempunyai struktur yang baik karena setelah menjelaskan suatu masalah, diberikan bukti nyata yaitu cuplikan wawancara dari beberapa informan. Kemudian jurnal ini juga mempunyai manfaat yang besar yaitu dapat dijadikan pedoman pemerintah untuk memperbaiki kesehatan masyarakat di Desa Ciwalen tersebut. Jurnal ini mempunyai pendahuluan yang cukup informatif karena memaparkan bagaimana ssejarah penyakit itu dan apa saja yang berkaitan dengan penyakit pada umumnya. Selain itu, pemaparan tentang obat batuk dari jeruk nipis juga dijelaskan secara rinci. Walaupun masalah tentang obat tradisional kurang banyak dibahas, namun menurut saya jurnal ini sangat patut dipelajari baik oleh masyarakat awam maupun aparat pemerintahan sekitar.

Dalam sumber lain pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi langsung terhadap masyarakat lokol Suku Muna di Kecamatan Wakarumba. Dari hasil wawancara ahli pengobatan tradisional ( dukun ) dan penduduk lokal, didapatkan hasil bahwa terdapat sekitar 61 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat herbal daerah tersebut, salah satunya adalah sebagai obat batuk. Salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat batuk adalah Towulambe dengan nama latin Saccharum spontaneum. Pemanfaatan tumbuhan ini dengan cara mengunyah dan menghisap air dari umbut tanaman Towulambe tersebut. Selain towulambe, tanaman lain yang dimanfaatkan sebagai obat batuk adalah buamalaka, dan kambadawa.(4)  Jurnal ini menyajikan data dengan tabel yang singkat, jelas, dan disertai dengan proses penggunaan obatnya sehingga cukup menarik untuk dibaca. Selain itu, dipaparkan bahwa obat tradisional masyarakat Lokal Suku Muna tidak memiliki efek samping yang berbahaya bagi manusia.
Di masyarakat ada juga masalah penggunaan produk obat Common Cold masyarakat tanpa melalui resep yang diberikan dokter. Dijelaskan bahwa Common Cold merupakan obat yang dijual bebas di pasaran dan fungsinya hanya meringankan gejala flu yaitu batuk dan pilek.(5)  Penelitian ini bukan termasuk penelitian eksperimental melainkan menggunakan metode survei dengan cara membagikan kuisioner kepada para responden yaitu masyarakat Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Data-data yang telah dikumpulkan disajikan dengan lengkap sesuai dengan kaidah statistika. Penelitian dilakukan berdasarkan karakteristik responden yang terdiri dari jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, bidang pekerjaan, serta penghasilan para responden. Gambaran pengobatan sendiri pada obat Common Cold yaitu Frekuensi menderita Common Cold, Tindakan ketika menderita Common Cold, Alasan melakukan pengobatan sendiri, Dasar pemilihan obat, dan Sumber informasi. Disajikan juga evaluasi penggunaan obat-obat Common Cold. Dari data yang didapatkan penulis menyimpulkan bahwa diatas 50% responden melakukan pengobatan menggunakan obat Common Cold tanpa melalui dokter. Letak keunggulan dari jurnal ini adalah bahwa penulis tidak hanya menyajikan data yang diperolehnya namun juga memberikan pendapat pribadinya yang dicantumkan pada bagian saran. Pendapat penulis menurut saya benar, singkat, dan jelas. Ia menyarankan bahwa Pemerintah perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai penggunaan obat Common Cold  pada pengobatan sendiri yang harus memenuhi  kriteria tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis serta waspada efek samping obat, serta perlu dilakukan penelitian tentang kerasionalan pengobatn sendiri pada obat Common Cold. Pengobatan sendiri terhadap batuk dengan menggunakan obat Common Cold menurut saya juga kurang masuk akal karena belum ada bukti langsung dari dokter atau ahli kesehatan tentang keberhasilan penggunaan obat tersebut. Jurnal ini juga menekankan bahwa batuk pilek adalah penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya.
Masalah penggunaan kombinasi obat batuk pilek dalam masyarakat. metode penelitian yang dilakukan penulis adalah pengumpulan data dengan melakukan studi pustaka. Disajikan tabel data yang menunjukkan kandungan serta komposisi dalam berbagai kombinasi obat batuk pilek yang berbahan kimia. Sama seperti jurnal pertama tadi, jurnal ini juga menyoroti perkembangan penggunaan sendiri obat batuk pilek yang terjual di apotek maupun toko kelontong. Obat-obat tadi mengandung beberapa bahan aktif diantaranya adalah Analgesik dan antipiretik, Antihistamin, Dekongestan, Antitusif, Ekspektoran mukolitik, serta Stimulan-Kafein.(1) Secara ilmiah jurnal ini menarik untuk dibaca. Penulis tidak berpihak pada obat batuk yang berbahan kimia. Hal itu terlihat pada kesimpulan yang menyatakan bahwa penyakit flu atau batuk pilek adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri, maka penggunaan obat-obatan kimia tidak perlu dilakukan. Selain itu, penulis juga memaparkan bahwa penggunaan obat kimia seperti antibiotik belum terbukti kebenarannya. Bahkan bila obat-obatan kimia yang digunakan tidak cocok, maka akan menimbulkan efek samping yang negatif bagi pengguna. Pemaparan penulis tadi sangat positif  karena memang obat kimia mempunyai efek samping yang tidak sedikit. Namun, saya kurang setuju dengan penjelasan yang terlalu rumit oleh penulis karena orang yang awam tentang masalah ilmiah akan sulit mempelajarinya.
Dalam jurnal lain dijelaskan berbagai macam hal tentang batuk kronik yang dialami anak pada usia dibawah 12 tahun.(6) Termasuk juga dijelaskan tentang penggunaan antibiotik pada anak penderita batuk kronik. Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh khususnya respiratorik yang harus dikelola dengan baik. Penekanan pada jurnal penelitian ini adalah dibutuhkannya pertimbangan penggunaan obat batuk kimia sesuai dengan usia penderita batuk kronik. Jurnal penelitian ini disusun secara baik dengan menampilkan tabel etiologi batuk kronik berdasarkan usia. Pada usia tertentu dan pada penyakit batuk yang ringan penyakit batuk pilek dapat sembuh dengan sendirinya.
Setelah mengulas tiga jurnal penelitian tentang obat batuk tradisional serta tiga jurnal penelitian tentang obat batuk yang berbahan kimia, dapat kita peroleh sebuah hasil bahwa penyakit batuk dan pilek dapat disembuhkan dengan obat tradisional maupun obat kimia. Namun, sebenarnya penyakit batuk pilek adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. Di dalam tubuh manusia sudah terdapat sistem kekebalan tubuh yang dapat menangkal penyakit, maka manusia harus melatih sistem kekebalan tubuhnya bekerja dengan cara tidak mengonsumsi obat dari luar.
Obat batuk tradisional dibuat dari bahan alami sehingga tidak mempunyai efek samping misalnya saja jahe dan jeruk nipis. Sedangkan obat batuk yang berbahan kimia mempunyai efek samping yang jika dikonsumsi terus menerus akan dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan pengguna obat tersebut seperti mukolitik dan antitusif. Oleh karena itu menurut saya, obat tradisional dirasa paling cocok digunakan untuk mengobati batuk pilek karena selain tidak memiliki efek samping, obat batuk tradisional juga mudah didapatkan dan terjangkau oleh masyarakat. Penggunaan obat pada penyakit batuk pilek yang ringan sebenarnya tidak dianjurkan. Jika memang ingin mengobati, obat yang paling cocok adalah obat tradisional bukan obat yang berbahan kimia. Penggunaan obat kimia diperbolehkan untuk penyakit batuk yang sudah sedang ataupun berat dan harus melalui saran dan resep dari dokter.


DAFTAR PUSTAKA
1.        Gitawati R. BAHAN AKTIF DALAM KOMBINASI OBAT FLU DAN BATUK-PILEK , DAN PEMILIHAN OBAT FLU YANG ACTIVE INGREDIENTS IN COMMON COLD FIXED-DOSE COMBINATION PRODUCTS AND. 2014;24(1):10–8.
2.        Udayana U. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional di desa trunyan kecamatan kintamani kabupaten bangli. 1992;7–18.
3.        Dan B, Pada P, Di M, Ciwalen D, Warungkondang K, Cianjur K, et al. Sudibyo Supardi dan Mulyono Notosiswoyo. 2005;II(3):134–44.
4.        People M, Wakarumba SD, Muna D. Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Bahan Obat oleh Masyarakat Lokal Suku Muna di Kecamatan Wakarumba , Kabupaten Muna , Sulawesi Tenggara. 2006;7:333–9.
5.        Penggunaan E, Commond O, Pada C, Sendiri P, Desa M, Kecamatan K, et al. Evaluasi penggunaan obat commond cold pada pengobatan sendiri di masyarakat desa karanggondang kecamatan mlogo kabupaten jepara. 25:18–25.
6.        Supriyatno B. Batuk Kronik pada Anak. 2010;60:285–8.

0 komentar:

Posting Komentar