This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 30 Oktober 2015

Kehilangan Ibu, Menjadikan ku Memilih Cita-Citaku



Sabtu sore 25 September 2011 adalah hari dimana terasa mengerikan bagiku aku tak  dapat berkata-kata melihat kejadian itu, tubuh ini lemas sejenak dan segera berlari masuk mobil yang penuh dengan terikan tetangga penuh dengan kekhawatiran. Dengan menangis histeris, aku ikut mengantarkan iringan yang membawa perempuan yang sangat kucintai. Saat itu, aku baru saja memasuki masa putih abu-abu dan masih belum mengerti apapun tetapi seumur itu aku dan bapaklah yang setia menunggui ibu. Seorang kakak laki-laki dan dua orang kakak perempuanku yang sudah berkeluarga tidak langsung datang, karena mereka tengah sibuk dan belum mendengar kabar apa yang terjadi. Rumah sakit pertama adalah RSI Kendal, ibu masuk ruang UGD dan dengan terpaksa ibu harus dirujuk ke rumah sakit Semarang karena rumah sakit Kendal peralatannya kurang lengkap. Setelah lima menit pemeriksaan dilakukan dokter berkata “Pak ibu Emi harus segera ditangani di rumah sakit yang lebih baik” saat itu terjadilah sebuah perdebatan antara om Yah (adik kandung ibu) yang  menginginkan ibu dibawa ke rumah sakit Telogo Rejo dan om Catur (adik ipar ibu) yang menginginkan ibu dibawa ke rumah sakit di Pekalongan. Setelah perdebatan panjang, akhirnya sebuah keputusan di ambil. Wiu wiu wiu wiu wiu... suara sirine terdengar sepanjang jalan. Jarum jam menunjukan pukul 20.00, kami (aku,om Yah,bapak), seorang supir, dan seorang laki-laki baik berada dalam mobil itu. Akhirnya di pertengahan jalan Kendal menuju Telogo Rejo, laki-laki itu berkata “Pak supir tolong lebih cepat lagi, oksigen telah habis!”. Seketika seisi mobil panik, bapak dan Om Yah terlihat menyembunyikan kesedihannya. Laki-laki itu tergesa-gesa  menurunkan ibu, mengurusnya sampai UGD kemudian  ditanganilah ibu dengan dokter . Walaupun tindakan telah dilakukan,  ibu masih tidak sadarkan diri. Saat kejadian naas tersebut, ibu terjatuh dari sepeda beberapa saat setelah dia terbangun ibu tidak dapat berjalan dan nafasnya terasa sesak. Mungkin itulah yang membuat kondisinya parah. “Kunita dimana Kunita dimana?” tiba-tiba terdengar suara dari depan, serombongan keluarga besar datang termasuk om Catur yang  ikut menyusul kami.  Disamping kondisi yang mendebarkan ini, terjadi perdebatan lagi antara om Catur dan om Yah. Keduanya saling menyalahkan. Sementara aku duduk termenung bersender pada tembok biru, aku tak sanggup membayangkan segalanya. Tiba-tiba seorang wanita mendatangiku “Adik  anaknya pasien ICU yang bernama ibu Emi ya?” aku mengangguk cuek, “Adik namanya siapa?” “Kunita” jawabku penuh dengan kejengkelan karena merasa orang ini sok kenal “Adik sudah makan?” aku menggelengkan kepala, “ Ini dimakan ya dek (memberiku sepaket makanan lengkap) jangan nangis lagi berdoa untuk ibu ya, adik juga harus makan biar sehat, kalau dek Kunita butuh kakak nanti kakak pasti datang kok “. Rasanya seperti di tengah kegelapan kemudian tiba-tiba ada cahaya putih datang, seorang wanita yang tak kukenal tapi begitu baik membuat sedikit merasa lebih tenang. Kulangkahkan kaki ini menuju rumah Allah dan kuambil air wudhu. Ku masuki tempat itu, terasa bergetar hati ini menangisku di keheningan malam. Di setiap sujud aku hanya mengharap kesembuhan seseorang yang paling ku sayangi di dunia ini. Masih banyak yang belum ku lakukan untuknya. Aku masih ingin membahagiakannya, harapku pada-Nya. Setelah aku merasa tenang, aku kembali ke depan UGD. Kutemui bapak dan kedua omku. Tak lama kemudian, dokter datang membawa kabar gembira “Pak di Rumah Sakit Mranggen (Demak) masih ada ICU kosong” tersenyumlah semuanya. “Alhamdulilah” jawab bapak dengan senang. Dengan segera ibu dibawa ke rumah sakit itu. Semuanya dilakukan dengan cepat. Tak butuh waktu lama, kami sampai di rumah sakit Demak. Jalan satu-satunya adalah operasi. Yah, dokter berkata demikian, kondisi ibu sudah sangat parah. Terjadi penyumbatan darah dalam otaknya. Tak pikir panjang lagi, kami sekeluarga menyetujui hal itu. Dengan penuh ketegangan, kami menunggui ibu di depan ruang operasi. Hati ini tidak bisa berhenti untuk berdoa. Tubuh ini lemas lagi  ketika dokter keluar dengan membawa kabar bahwa operasi pasien lancar. Namun, kondisi pasien masih tak sadarkan diri.  Aku merasa malam itu seperti malam terburuk. Teng tong.. jam rumah sakit menunjukan pukul 24.00 tepat tengah malam, semuanya masih cemas dan menahan kesedihannya. Bapak menyuruhku tidur, aku hanya menggeleng tak ku jawab sedikitpun. Menangis lagi mata ini, ku duduk bersandar di kursi depan ruangan sunyi sepi. Aku menunduk, menangis, mengeluarkan segala yang kurasa. Aku berpikir bagaimana jika ibu seperti ini, seperti itu, pikiranku melayang-layang tak tentu arah. Lagi-lagi wanita baik itu datang dia menyapaku dengan ramah. “Dek kunita ibunya kami bersihkan ya..sekalian nanti saya ganti bajunya. Aku mengangguk, kali ini aku mengangguk dengan tersenyum dan tidak cuek lagi. Aku merasa wanita itu sabar dan ramah bagaimana mungkin aku cuek, lama kelamaan aku merasa kagum kepadanya dia sangatlah peduli walaupun tidak mengenal kami. “Dek kunita yang sabar ya...terus doakan ibunya” sambungnya. Tak lama kemudian, wanita itu memasuki ruangan ICU tempat ibu dirawat. Tubuh ini refleks mengikutinya dan mengintipnya dari balik pintu. Aku melihat dia begitu lembut. Tak kusangka, dia mengajak ibu berbicara (pikirku bagaimana mungkin seorang yang koma namun diajak berbicara).
Hari berganti, Senin 26 September. Tapi bergantinya hari tidak membuat kondisi ibu membaik, ibu masih belum sadar, tidak ada perubahan apapun, seluruh kerja tubuhnya sudah menggunakan  bantuan alat kesehatan. Pagi itu dokter mengijinkan seluruh keluarga memasuki ruangan. Iya, pagi itu seluruh anggota keluarga besar berada di rumah sakit termasuk ketiga kakakku yang sudah menyusul kami. Satu per satu tetangga yang datang menjengukpun diijinkan masuk namun harus memakai baju khusus dan kondisi badan harus bersih. Setelah bapak dan kakakku, tiba saatnya ku memasuki ruangan itu setelah ku memakai baju khusus berwarna hijau, seorang wanita baik itu menghampiriku dia berkata “Ibunya diajak ngobrol ya dek,  ibunya masih dapat mendengar kok”. “Iya” jawabku singkat sambil tersenyum kecil. Ku berjalan menuju tempat tidur  ibu, aku menangis lagi, mungkin sudah kesekian kalinya sejak ibu jatuh aku terus menangis. Aku menangis sambil mengajak ibuku berbicara“Ibu ayo sembuh , kalau ibu sembuh aku mau jadi anak yang tidak manja lagi aku janji bu” sambil kuciumi tangannya, ku sentuh wajahnya dengan segenap ketulusanku. Tak disangka ibu meresponnya dia menangis matanya mengeluarkan air mata. Aku terkejut tak menyangka seseorang yang koma ternyata juga dapat mendengarkan ucapan kita. Setelah ku merasa cukup, aku keluar dengan pikiran kosong. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi karena dokter juga sudah bekerja maksimal. Aku sudah berpikir hal terburuk yang mungkin akan terjadi. Namun, disela-sela pikiran itu aku masih berharap akan kesembuhan ibu. Senin malam pukul 21.00, hampir semua anggota keluargaku termasuk bapak dan lainnya beristirahat entah karena ketiduran apa benar-benar ingin tidur, yang jelas mereka semua tampak lelah. Sebelum tidur aku sempat berjalan-jalan dan ku menengok ke kamar ibu dari balik kaca pintu, tak  kulihat apapun yang kulihat dalam ruangan itu hanyalah seorang wanita baik itu. Iya wanita baik yang setiap kali menghampiriku dengan senyuman, wanita itu berseragam sama persis dengan laki-laki baik yang mengantarkan kami dari Kendal. Malam itu aku melihat dalam ruang sesosok wanita itu dengan segala ketulusan dan kelembutannya mengabdikan segalanya hanya untuk seseorang yang kami cemaskan, seseorang yang tak dikenalnya. Beberapa menit kemudian, wanita itu keluar ruangan, dia melihatku di depan pintu dan dia tersenyum  mengantarkanku kepada bapakku yang ternyata sudah terbangun, dia juga menyuruhku tidur karena mataku terlihat kurang istirahat, katanya. Memang benar mata ini kurang tidur dan terlalu sering menangis tak heran jika wanita itu berkata demikian.Akhirnya ku tertidur, tetapi tak lama setelah  mata ini terpejam sekitar pukul 3.00 dini hari semua keluarga terbangun. Iya, terbangun karena kabar menyedihkan kabar yang sebenarnya tidak kami harapkan. “Ibu sudah  meninggal” bapak berkata seperti itu. Kondisinya dari jam ke jam semakin kritis akhirnya beliau tidak kuat dan menghembuskan nafas terakhirnya baru saja” dokter menjelaskan seperti itu. Aku berteriak sangat keras “ibuuuuuuuuuuuuuuuu...”. Aku menangis lagi dan lagi aku lemas hampir tak sadarkan diri semua keluarga menangis. Namun, yang paling keras menangis hanyalah aku seorang. Semua  menenangkanku tapi aku tetap  saja menangis dan menangis. Hanya itu yang kulakukan saat itu. Aku merasa semuanya sia-sia semua perjuangan dari awal untuk kesembuhan ibu hanyalah sia-sia semata, aku juga belum menyangka semuanya akan secepat itu . Selasa 27 september 2011 adalah hari paling menyedihkan sepanjang hidup, kehilangan sesosok yang paling berarti dalam hidup apalagi saat itu usiaku masih lima belas  tahun. Seumur hidup baru hari itu aku melihat seorang bapakku mengeluarkan air matanya, seumur hidupnya aku tak pernah melihat bapak menangis tapi saat itu bapak menangis, mungkin bapak sangatlah sedih kehilangan pasangan hidup yang luar biasa. Ibu adalah wanita paling hebat dalam keluarga kami. Aku juga merasa kagum kepada bapak walaupun beliau sedih tetapi beliau tetap menasihati anak-anaknya dan menenangkanku. Saat ku menangis, wanita baik itu menghampiriku menyuruhku ke ruangan untuk terakhir kalinya melihat ibu sebelum ibu disiapkan dan dibawa ke rumah duka. “Kakak terima kasih ya’ panggil dan ucapku padanya.“ Sama-sama dek saya ikut berduka cita, kamu yang tabah ya” jawabnya. “Aku mengagumimu” responku spontan kepadanya dan wanita baik itu tersenyum lalu berpamitan pergi. Hari itu ibu langsung saja dimakamkan. Satu per satu keluarga besar pamit pulang  dan tetangga yang melayat pun pulang. Hanya ada kami bapak kakak kakakku dan kesedihan. Namun, duka itu menjadikan dalam benakku ingin seperti laki-laki baik dan wanita baik itu. Sesosok yang sangat baik kepada kami, kepada pasien dan keluarga pasien. Iya mereka adalah perawat, perawat adalah pekerjaan mulia pekerjaan yang sangat berjasa bukan hanya kepada pasien namun kepeduliaan mereka kepada keluarga pasien juga luar biasa.
Sejak saat itu, aku sangat mengagumi seorang perawat, seorang perawat yang memakai seragam putihnya yang penuh dengan kesucian sama persis seperti jasanya yang suci dan mulia. Sekarang seseorang yang mengagumi profesi itu telah memutuskan untuk kuliah di ilmu keperawatan. Iya, akulah orang itu aku ingin melanjutkan jasa-jasanya kelak, aku ingin menolong orang lain seperti perawat-perawat penolong ibuku itu. Suatu saat, aku akan membuktikan, dengan ketulusan dan pelayanan baikku, aku akan seperti mereka yang tidak hanya baik pada pasien, tetapi juga sangat peduli kepada keluarga pasien. Walaupun sedih, semua ada hikmahnya. Kehilangan ibu menjadikan ku memilih cita citaku.




Kerangka Karangan


-          Paragraf  1       :          
Menceritakan awal dari musibah yang dialami keluarga kami. Kronologi mengenai penyebab mengapa ibu saya harus dibawa ke rumah sakit. Selanjutnya, kemunculan seorang perawat wanita yang kemudian menjadi inspirasi untuk memilih cita-citaku.
-          Paragraf  2       :
Kondisi ibu yang makin kritis dan memburuk membuat keluarga kami menjadi sedih dan panik. Dan akhirnya, ibu harus dipanggil oleh Sang Penciptanya. Kekagumanku terhadap perawat baik hati  juga semakin bertambah.
-          Paragraf  3       :
Akhirnya aku memilih untuk mengejar mimpi menjadi perawat, karena ketulusan dan kebaikan hati perawat yang telah aku jumpai telah benar-benar menginspirasiku.



Hidup Adalah Sebuah Pilihan


TERIMAKASIIH :)
Tempat aku belajar, tempat ku berkembang tempat ku mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Terimakasih disini saya dipertemukan orang-orang hebat seperti kalian yang tidak hanya memikirkan diri kalian namun dari hal-hal kecil di diri kita masing-masing  namun dibalik hal-hal kecil itu aku yakin bahwa kalian memikirkan bagaimana caranya jurusan, fakultas ataupun undip tercinta ini lebih baik daripada sebelumnya.




 

















Pemilihan Obat Batuk atau Pilek yang Efektif



Dalam masyarakat dikenal dua obat-obatan yang berbeda sumber dan proses pembuatannya, namun mempunyai khasiat yang sama yaitu untuk mengobati batuk pilek. Kedua obat tersebut adalah obat tradisional dan obat berbahan kimia atau obat modern.Batuk dalam bahasa latin disebut tussis yaitu refleks yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan sering berulang-ulang yang bertujuan untuk membantu membersihkan saluran pernapasan dari lendir besar, iritasi, partikel asing dan mikroba. Batuk terjadi karena rangsangan tertentu, misalnya debu di reseptor batuk (hidung, saluran pernapasan, bahkan telinga). Kemudian reseptor akan mengalirkan lewat syaraf ke pusat batuk yang berada di otak. Di sini akan memberi sinyal kepada otot-otot  tubuh untuk mengeluarkan benda asing tadi, hingga terjadilah batuk. Penyebab lain dari batuk antara lain infeksi di saluran pernapasan bagian atas yang merupakan gejala flu ( ISPA ), Alergi, Asma atau tuberkulosis, benda asing yang masuk ke dalam saluran napas, tersedak akibat minum susu, menghirup asap rokok dari orang sekitar, masalah emosi dan psikologis (untuk batuk psikogenik ).(1) Batuk dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu batuk akut dan batuk kronis, keduanya dikelompokkan berdasarkan waktu.Batuk akut adalah batuk yang berlangsung kurang dari 14 hari, serta dalam 1 episode. Bila batuk sudah lebih dari 14 hari atau terjadi dalam 3 episode selama 3 bulan berturut-turut, disebut batuk kronis atau batuk kronis berulang.Batuk kronis berulang yang sering menyerang anak-anak adalah karena asma, tuberkolosis (TB), dan pertusis (batuk rejan/batuk 100 hari).Berdasarkan dahak yang dikeluarkan batuk dibedakan menjadi dua yaitu batuk kering dan batuk berdahak. Sementara itu, Pilek adalah penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang paling sering terjadi di seluruh dunia. Pilek adalah penyakit yang sembuh sendiri (self-limiting) yang disebabkan oleh salah satu dari 200-an virus. Pilek biasa menghasilkan gejala ringan yang hanya berlangsung 5-10 hari. Keluhan yang paling umum adalah ingusan, bersin, penyumbatan hidung, sakit kepala, sakit tenggorokan dan batuk. Sebaliknya, flu (influenza), yang disebabkan oleh virus dari kelas yang berbeda, dapat memiliki gejala yang parah. Batuk dan pilek biasanya timbul sebagai gejala sebuah penyakit yang bernama Flu.
Secara umum,berdasarkan sumber dan proses pembuatannya terdapat dua jenis obat yang digunakan untuk menyembuhkan batuk dan pilek. Kedua jenis obat tersebut adalah obat tradisional dan obat kimia modern. Obat tradisional merupakan obat yang bersumber dari bahan-bahan atau tumbuhan-tumbuhan herbal dan alami. Obat jenis ini di proses dengan cara yang konvensional. Obat tradisional merupakan obat yang secara turun temurun diwariskan dan digunakan oleh masyarakat untuk mengobati sebuah penyakit. Biasanya, di setiap daerah di Indonesia mempunyai obat tradisional yang mempunyai sumber dan ciri khas masing – masing. Obat tradisional untuk batuk juga terdapat di setiap daerah di nusantara. Di daerah tempat tinggal saya yaitu daerah Jawa tengah banyak terdapat obat-obatan tradisional yang berguna menyembuhkan batuk antara lain jahe, jeruk nipis, kencur, kunyit, dll. Yang kedua adalah obat batuk yang berbahan kimia atau disebut juga obat modern. Obat kimia sendiri mempunyai berbagai macam jenis antara lain ekspektoran, mukolitik, dll.Jenis obat manakah yang lebih cocok untuk digunakan pada penderita batuk pada umumnya dan manakah yang lebih aman digunakan oleh masyarakat?
Bahan-bahan alami yang  jumlahnya mencapai 90 tumbuhan herbal dan digunakan masyarakat Desa Trunyan sebagai obat tradisional untuk berbagai macam penyakit, salah satunya adalah batuk. Terdapat beberapa bahan yang digunakan masyarakat Desa Trunyan untuk mengobati batuk.(2) Bahan pertama adalah Bangle atau Zingiber cassumunar dengan kandungan senyawa Albuminoid, sineol, pinen dan sesquiterpen. Bahan kedua adalah Jahe atau Zingiber officinale dengan kandungan senyawa Minyak atsiri, zingeton, zingibetol, zingiberin, borneol dan sineol. Bahan ketiga adalah kunyit atau Curcuma demostica dengan kandungan senyawa kimia Minyak atsiri, kurkuminoid dan kurkumin. Bahan keempat adalah Kencur atau Kaemfperia galanga dengan kandungan senyawa Minyak atsiri, borneol, kamfer, sineol dan etil alcohol, dan masih banyak lagi bahan – bahan alami yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit batuk. Penelitian terhadap berbagai macam tumbuhan obat oleh Sang Ketut Sudirga ini cukup akurat karena menggunakan metode penelitian yang cukup lengkap dan memenuhi syarat yaitu dengan melakukan wawancara langsung, lalu melakukan observasi, dan yang terakhir dengan mengkaji melalui studi pustaka, dan data yang disajikan pun sangat runtut dengan menggunakan tabel. Namun, terdapat beberapa kelemahan yang menurut saya cukup penting sebagai bagian dari sebuah penelitian obat diantaranya adalah tidak disajikannya proses atau cara pembuatan obat - obat herbal tersebut, dan tidak dicantumkannya cuplikan wawancara kepada masayarakat sebagai bukti bahwa benar – benar telah dilakukannya metode penelitian tersebut.

 Sedangkan di jurnal lain menyebutkan bahwa di suatu daerah yakni Desa Ciwalen perilaku masyarakatnya dengan mengobati sendiri penyakit  tanpa harus repot- repot pergi ke dokter dan salah satunya adalah menggunakan obat tradisional mereka sendiri.(3) Dengan lebih banyak menggunakan metode penelitian dengan wawancara langsung kepada masyarakat di Desa Ciwalen, Sudibyo Supardi dan Mulyono Notosiswoyo berhasil mendapatkan informasi- informasi yang jelas dan dapat dijadikan sumber untuk membuat jurnal penelitian yang akurat. Informasi -informasi yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap 12 orang informan kunci yang mewakili pemerintahan (ketua RT dan ketua RW), pendidikan (guru SD), pedagang (pemilik warung yang menjual obat), kader kesehatan dan ibu rumah tangga
Diantaranya adalah Konsep Sehat – Sakit yang memuat pengertian sehat menurut beberapa informan dan juga perbedaan antara sakit ringan dan sakit berat yang disajikan dengan cuplikan wawancara langsung terhadap informan, kemudian yang selanjutnya adalah sakit kepala, pendapat para informan mengenai sakit kepala sangat beragam, informan memaparkan jenis – jenis sakit kepala menurut mereka, penyebab – penyebabnya, pencegahannya, dan juga obat – obatnya. Lalu dipaparkan pengertian dan pencegahan penyakit demam. Selanjutnya adalah penyakit batuk.  Pada bagian ini lebih banyak diungkapkan pendapat – pendapat informan tentang TBC ( tuberculosis ) serta penyebab dan pengobatannya. Yang menarik pada bagian ini adalah dipaparkannya obat tradisional sebagai pengobatan sendiri oleh masyarakat di daerah sana. Wawancara yang dilakukan terhadap seorang guru SD disana mengungkapkan salah satu obat tradisional untuk penyakit batuk ringan adalah air perasan jeruk nipis dicampur kecap, daun sirih 5 lembar diseduh dengan air hangat setengah gelas atau rebusan jahe dengan gula merah. Bagian terakhir adalah sakit pilek. Pada bagian ini dipaparkan gejala – gejala, penyebab, serta pencegahan sakit pilek. Obat tradisional yang digunakan pada penyakit pilek ini adalah minyak kelapa yang dioleskan pada bagian bawah hidung agar hidung tidak tersumbat atau mampet. Jurnal penelitian ini mempunyai beberapa kelebihan diantaranya adalah jurnal ini mempunyai struktur yang baik karena setelah menjelaskan suatu masalah, diberikan bukti nyata yaitu cuplikan wawancara dari beberapa informan. Kemudian jurnal ini juga mempunyai manfaat yang besar yaitu dapat dijadikan pedoman pemerintah untuk memperbaiki kesehatan masyarakat di Desa Ciwalen tersebut. Jurnal ini mempunyai pendahuluan yang cukup informatif karena memaparkan bagaimana ssejarah penyakit itu dan apa saja yang berkaitan dengan penyakit pada umumnya. Selain itu, pemaparan tentang obat batuk dari jeruk nipis juga dijelaskan secara rinci. Walaupun masalah tentang obat tradisional kurang banyak dibahas, namun menurut saya jurnal ini sangat patut dipelajari baik oleh masyarakat awam maupun aparat pemerintahan sekitar.

Dalam sumber lain pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi langsung terhadap masyarakat lokol Suku Muna di Kecamatan Wakarumba. Dari hasil wawancara ahli pengobatan tradisional ( dukun ) dan penduduk lokal, didapatkan hasil bahwa terdapat sekitar 61 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat herbal daerah tersebut, salah satunya adalah sebagai obat batuk. Salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat batuk adalah Towulambe dengan nama latin Saccharum spontaneum. Pemanfaatan tumbuhan ini dengan cara mengunyah dan menghisap air dari umbut tanaman Towulambe tersebut. Selain towulambe, tanaman lain yang dimanfaatkan sebagai obat batuk adalah buamalaka, dan kambadawa.(4)  Jurnal ini menyajikan data dengan tabel yang singkat, jelas, dan disertai dengan proses penggunaan obatnya sehingga cukup menarik untuk dibaca. Selain itu, dipaparkan bahwa obat tradisional masyarakat Lokal Suku Muna tidak memiliki efek samping yang berbahaya bagi manusia.
Di masyarakat ada juga masalah penggunaan produk obat Common Cold masyarakat tanpa melalui resep yang diberikan dokter. Dijelaskan bahwa Common Cold merupakan obat yang dijual bebas di pasaran dan fungsinya hanya meringankan gejala flu yaitu batuk dan pilek.(5)  Penelitian ini bukan termasuk penelitian eksperimental melainkan menggunakan metode survei dengan cara membagikan kuisioner kepada para responden yaitu masyarakat Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara. Data-data yang telah dikumpulkan disajikan dengan lengkap sesuai dengan kaidah statistika. Penelitian dilakukan berdasarkan karakteristik responden yang terdiri dari jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, bidang pekerjaan, serta penghasilan para responden. Gambaran pengobatan sendiri pada obat Common Cold yaitu Frekuensi menderita Common Cold, Tindakan ketika menderita Common Cold, Alasan melakukan pengobatan sendiri, Dasar pemilihan obat, dan Sumber informasi. Disajikan juga evaluasi penggunaan obat-obat Common Cold. Dari data yang didapatkan penulis menyimpulkan bahwa diatas 50% responden melakukan pengobatan menggunakan obat Common Cold tanpa melalui dokter. Letak keunggulan dari jurnal ini adalah bahwa penulis tidak hanya menyajikan data yang diperolehnya namun juga memberikan pendapat pribadinya yang dicantumkan pada bagian saran. Pendapat penulis menurut saya benar, singkat, dan jelas. Ia menyarankan bahwa Pemerintah perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai penggunaan obat Common Cold  pada pengobatan sendiri yang harus memenuhi  kriteria tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis serta waspada efek samping obat, serta perlu dilakukan penelitian tentang kerasionalan pengobatn sendiri pada obat Common Cold. Pengobatan sendiri terhadap batuk dengan menggunakan obat Common Cold menurut saya juga kurang masuk akal karena belum ada bukti langsung dari dokter atau ahli kesehatan tentang keberhasilan penggunaan obat tersebut. Jurnal ini juga menekankan bahwa batuk pilek adalah penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya.
Masalah penggunaan kombinasi obat batuk pilek dalam masyarakat. metode penelitian yang dilakukan penulis adalah pengumpulan data dengan melakukan studi pustaka. Disajikan tabel data yang menunjukkan kandungan serta komposisi dalam berbagai kombinasi obat batuk pilek yang berbahan kimia. Sama seperti jurnal pertama tadi, jurnal ini juga menyoroti perkembangan penggunaan sendiri obat batuk pilek yang terjual di apotek maupun toko kelontong. Obat-obat tadi mengandung beberapa bahan aktif diantaranya adalah Analgesik dan antipiretik, Antihistamin, Dekongestan, Antitusif, Ekspektoran mukolitik, serta Stimulan-Kafein.(1) Secara ilmiah jurnal ini menarik untuk dibaca. Penulis tidak berpihak pada obat batuk yang berbahan kimia. Hal itu terlihat pada kesimpulan yang menyatakan bahwa penyakit flu atau batuk pilek adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri, maka penggunaan obat-obatan kimia tidak perlu dilakukan. Selain itu, penulis juga memaparkan bahwa penggunaan obat kimia seperti antibiotik belum terbukti kebenarannya. Bahkan bila obat-obatan kimia yang digunakan tidak cocok, maka akan menimbulkan efek samping yang negatif bagi pengguna. Pemaparan penulis tadi sangat positif  karena memang obat kimia mempunyai efek samping yang tidak sedikit. Namun, saya kurang setuju dengan penjelasan yang terlalu rumit oleh penulis karena orang yang awam tentang masalah ilmiah akan sulit mempelajarinya.
Dalam jurnal lain dijelaskan berbagai macam hal tentang batuk kronik yang dialami anak pada usia dibawah 12 tahun.(6) Termasuk juga dijelaskan tentang penggunaan antibiotik pada anak penderita batuk kronik. Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh khususnya respiratorik yang harus dikelola dengan baik. Penekanan pada jurnal penelitian ini adalah dibutuhkannya pertimbangan penggunaan obat batuk kimia sesuai dengan usia penderita batuk kronik. Jurnal penelitian ini disusun secara baik dengan menampilkan tabel etiologi batuk kronik berdasarkan usia. Pada usia tertentu dan pada penyakit batuk yang ringan penyakit batuk pilek dapat sembuh dengan sendirinya.
Setelah mengulas tiga jurnal penelitian tentang obat batuk tradisional serta tiga jurnal penelitian tentang obat batuk yang berbahan kimia, dapat kita peroleh sebuah hasil bahwa penyakit batuk dan pilek dapat disembuhkan dengan obat tradisional maupun obat kimia. Namun, sebenarnya penyakit batuk pilek adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. Di dalam tubuh manusia sudah terdapat sistem kekebalan tubuh yang dapat menangkal penyakit, maka manusia harus melatih sistem kekebalan tubuhnya bekerja dengan cara tidak mengonsumsi obat dari luar.
Obat batuk tradisional dibuat dari bahan alami sehingga tidak mempunyai efek samping misalnya saja jahe dan jeruk nipis. Sedangkan obat batuk yang berbahan kimia mempunyai efek samping yang jika dikonsumsi terus menerus akan dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan pengguna obat tersebut seperti mukolitik dan antitusif. Oleh karena itu menurut saya, obat tradisional dirasa paling cocok digunakan untuk mengobati batuk pilek karena selain tidak memiliki efek samping, obat batuk tradisional juga mudah didapatkan dan terjangkau oleh masyarakat. Penggunaan obat pada penyakit batuk pilek yang ringan sebenarnya tidak dianjurkan. Jika memang ingin mengobati, obat yang paling cocok adalah obat tradisional bukan obat yang berbahan kimia. Penggunaan obat kimia diperbolehkan untuk penyakit batuk yang sudah sedang ataupun berat dan harus melalui saran dan resep dari dokter.


DAFTAR PUSTAKA
1.        Gitawati R. BAHAN AKTIF DALAM KOMBINASI OBAT FLU DAN BATUK-PILEK , DAN PEMILIHAN OBAT FLU YANG ACTIVE INGREDIENTS IN COMMON COLD FIXED-DOSE COMBINATION PRODUCTS AND. 2014;24(1):10–8.
2.        Udayana U. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional di desa trunyan kecamatan kintamani kabupaten bangli. 1992;7–18.
3.        Dan B, Pada P, Di M, Ciwalen D, Warungkondang K, Cianjur K, et al. Sudibyo Supardi dan Mulyono Notosiswoyo. 2005;II(3):134–44.
4.        People M, Wakarumba SD, Muna D. Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Bahan Obat oleh Masyarakat Lokal Suku Muna di Kecamatan Wakarumba , Kabupaten Muna , Sulawesi Tenggara. 2006;7:333–9.
5.        Penggunaan E, Commond O, Pada C, Sendiri P, Desa M, Kecamatan K, et al. Evaluasi penggunaan obat commond cold pada pengobatan sendiri di masyarakat desa karanggondang kecamatan mlogo kabupaten jepara. 25:18–25.
6.        Supriyatno B. Batuk Kronik pada Anak. 2010;60:285–8.