Sabtu sore 25 September
2011 adalah hari dimana terasa mengerikan bagiku aku tak dapat berkata-kata melihat kejadian itu, tubuh
ini lemas sejenak dan segera berlari masuk mobil yang penuh dengan terikan tetangga
penuh dengan kekhawatiran. Dengan menangis histeris, aku ikut mengantarkan
iringan yang membawa perempuan yang sangat kucintai. Saat itu, aku baru saja
memasuki masa putih abu-abu dan masih belum mengerti apapun tetapi seumur itu aku
dan bapaklah yang setia menunggui ibu. Seorang kakak laki-laki dan dua orang
kakak perempuanku yang sudah berkeluarga tidak langsung datang, karena mereka
tengah sibuk dan belum mendengar kabar apa yang terjadi. Rumah sakit pertama adalah
RSI Kendal, ibu masuk ruang UGD dan dengan terpaksa ibu harus dirujuk ke rumah
sakit Semarang karena rumah sakit Kendal peralatannya kurang lengkap. Setelah
lima menit pemeriksaan dilakukan dokter berkata “Pak ibu Emi harus segera
ditangani di rumah sakit yang lebih baik” saat itu terjadilah sebuah perdebatan
antara om Yah (adik kandung ibu) yang
menginginkan ibu dibawa ke rumah sakit Telogo Rejo dan om Catur (adik
ipar ibu) yang menginginkan ibu dibawa ke rumah sakit di Pekalongan. Setelah
perdebatan panjang, akhirnya sebuah keputusan di ambil. Wiu wiu wiu wiu wiu...
suara sirine terdengar sepanjang jalan. Jarum jam menunjukan pukul 20.00, kami
(aku,om Yah,bapak), seorang supir, dan seorang laki-laki baik berada dalam
mobil itu. Akhirnya di pertengahan jalan Kendal menuju Telogo Rejo, laki-laki
itu berkata “Pak supir tolong lebih cepat lagi, oksigen telah habis!”. Seketika
seisi mobil panik, bapak dan Om Yah terlihat menyembunyikan kesedihannya.
Laki-laki itu tergesa-gesa menurunkan
ibu, mengurusnya sampai UGD kemudian ditanganilah ibu dengan dokter . Walaupun
tindakan telah dilakukan, ibu masih
tidak sadarkan diri. Saat kejadian naas tersebut, ibu terjatuh dari sepeda
beberapa saat setelah dia terbangun ibu tidak dapat berjalan dan nafasnya terasa
sesak. Mungkin itulah yang membuat kondisinya parah. “Kunita dimana Kunita
dimana?” tiba-tiba terdengar suara dari depan, serombongan keluarga besar datang
termasuk om Catur yang ikut menyusul
kami. Disamping kondisi yang mendebarkan
ini, terjadi perdebatan lagi antara om Catur dan om Yah. Keduanya saling
menyalahkan. Sementara aku duduk termenung bersender pada tembok biru, aku tak
sanggup membayangkan segalanya. Tiba-tiba seorang wanita mendatangiku “Adik anaknya pasien ICU yang bernama ibu Emi ya?”
aku mengangguk cuek, “Adik namanya siapa?” “Kunita” jawabku penuh dengan
kejengkelan karena merasa orang ini sok kenal “Adik sudah makan?” aku
menggelengkan kepala, “ Ini dimakan ya dek (memberiku sepaket makanan lengkap)
jangan nangis lagi berdoa untuk ibu ya, adik juga harus makan biar sehat, kalau
dek Kunita butuh kakak nanti kakak pasti datang kok “. Rasanya seperti di
tengah kegelapan kemudian tiba-tiba ada cahaya putih datang, seorang wanita yang
tak kukenal tapi begitu baik membuat sedikit merasa lebih tenang. Kulangkahkan
kaki ini menuju rumah Allah dan kuambil air wudhu. Ku masuki tempat itu, terasa
bergetar hati ini menangisku di keheningan malam. Di setiap sujud aku hanya
mengharap kesembuhan seseorang yang paling ku sayangi di dunia ini. Masih
banyak yang belum ku lakukan untuknya. Aku masih ingin membahagiakannya, harapku
pada-Nya. Setelah aku merasa tenang, aku kembali ke depan UGD. Kutemui bapak
dan kedua omku. Tak lama kemudian, dokter datang membawa kabar gembira “Pak di
Rumah Sakit Mranggen (Demak) masih ada ICU kosong” tersenyumlah semuanya. “Alhamdulilah”
jawab bapak dengan senang. Dengan segera ibu dibawa ke rumah sakit itu. Semuanya
dilakukan dengan cepat. Tak butuh waktu lama, kami sampai di rumah sakit Demak.
Jalan satu-satunya adalah operasi. Yah, dokter berkata demikian, kondisi ibu
sudah sangat parah. Terjadi penyumbatan darah dalam otaknya. Tak pikir panjang
lagi, kami sekeluarga menyetujui hal itu. Dengan penuh ketegangan, kami
menunggui ibu di depan ruang operasi. Hati ini tidak bisa berhenti untuk berdoa.
Tubuh ini lemas lagi ketika dokter keluar
dengan membawa kabar bahwa operasi pasien lancar. Namun, kondisi pasien masih
tak sadarkan diri. Aku merasa malam itu
seperti malam terburuk. Teng tong.. jam rumah sakit menunjukan pukul 24.00 tepat
tengah malam, semuanya masih cemas dan menahan kesedihannya. Bapak menyuruhku
tidur, aku hanya menggeleng tak ku jawab sedikitpun. Menangis lagi mata ini, ku
duduk bersandar di kursi depan ruangan sunyi sepi. Aku menunduk, menangis, mengeluarkan
segala yang kurasa. Aku berpikir bagaimana jika ibu seperti ini, seperti itu, pikiranku
melayang-layang tak tentu arah. Lagi-lagi wanita baik itu datang dia menyapaku dengan
ramah. “Dek kunita ibunya kami bersihkan ya..sekalian nanti saya ganti bajunya.
Aku mengangguk, kali ini aku mengangguk dengan tersenyum dan tidak cuek lagi.
Aku merasa wanita itu sabar dan ramah bagaimana mungkin aku cuek, lama kelamaan
aku merasa kagum kepadanya dia sangatlah peduli walaupun tidak mengenal kami. “Dek
kunita yang sabar ya...terus doakan ibunya” sambungnya. Tak lama kemudian,
wanita itu memasuki ruangan ICU tempat ibu dirawat. Tubuh ini refleks
mengikutinya dan mengintipnya dari balik pintu. Aku melihat dia begitu lembut.
Tak kusangka, dia mengajak ibu berbicara (pikirku bagaimana mungkin seorang
yang koma namun diajak berbicara).
Hari
berganti, Senin 26 September. Tapi bergantinya hari tidak membuat kondisi ibu
membaik, ibu masih belum sadar, tidak ada perubahan apapun, seluruh kerja tubuhnya
sudah menggunakan bantuan alat
kesehatan. Pagi itu dokter mengijinkan seluruh keluarga memasuki ruangan. Iya, pagi
itu seluruh anggota keluarga besar berada di rumah sakit termasuk ketiga
kakakku yang sudah menyusul kami. Satu per satu tetangga yang datang menjengukpun
diijinkan masuk namun harus memakai baju khusus dan kondisi badan harus bersih.
Setelah bapak dan kakakku, tiba saatnya ku memasuki ruangan itu setelah ku
memakai baju khusus berwarna hijau, seorang wanita baik itu menghampiriku dia
berkata “Ibunya diajak ngobrol ya dek, ibunya masih dapat mendengar kok”. “Iya”
jawabku singkat sambil tersenyum kecil. Ku berjalan menuju tempat tidur ibu, aku menangis lagi, mungkin sudah kesekian
kalinya sejak ibu jatuh aku terus menangis. Aku menangis sambil mengajak ibuku
berbicara“Ibu ayo sembuh , kalau ibu sembuh aku mau jadi anak yang tidak manja
lagi aku janji bu” sambil kuciumi tangannya, ku sentuh wajahnya dengan segenap
ketulusanku. Tak disangka ibu meresponnya dia menangis matanya mengeluarkan air
mata. Aku terkejut tak menyangka seseorang yang koma ternyata juga dapat mendengarkan
ucapan kita. Setelah ku merasa cukup, aku keluar dengan pikiran kosong. Aku
tidak tahu harus bagaimana lagi karena dokter juga sudah bekerja maksimal. Aku
sudah berpikir hal terburuk yang mungkin akan terjadi. Namun, disela-sela
pikiran itu aku masih berharap akan kesembuhan ibu. Senin malam pukul 21.00, hampir
semua anggota keluargaku termasuk bapak dan lainnya beristirahat entah karena
ketiduran apa benar-benar ingin tidur, yang jelas mereka semua tampak lelah. Sebelum
tidur aku sempat berjalan-jalan dan ku menengok ke kamar ibu dari balik kaca
pintu, tak kulihat apapun yang kulihat dalam
ruangan itu hanyalah seorang wanita baik itu. Iya wanita baik yang setiap kali
menghampiriku dengan senyuman, wanita itu berseragam sama persis dengan
laki-laki baik yang mengantarkan kami dari Kendal. Malam itu aku melihat dalam
ruang sesosok wanita itu dengan segala ketulusan dan kelembutannya mengabdikan
segalanya hanya untuk seseorang yang kami cemaskan, seseorang yang tak
dikenalnya. Beberapa menit kemudian, wanita itu keluar ruangan, dia melihatku
di depan pintu dan dia tersenyum mengantarkanku
kepada bapakku yang ternyata sudah terbangun, dia juga menyuruhku tidur karena
mataku terlihat kurang istirahat, katanya. Memang benar mata ini kurang tidur
dan terlalu sering menangis tak heran jika wanita itu berkata demikian.Akhirnya
ku tertidur, tetapi tak lama setelah
mata ini terpejam sekitar pukul 3.00 dini hari semua keluarga terbangun.
Iya, terbangun karena kabar menyedihkan kabar yang sebenarnya tidak kami
harapkan. “Ibu sudah meninggal” bapak
berkata seperti itu. Kondisinya dari jam ke jam semakin kritis akhirnya beliau
tidak kuat dan menghembuskan nafas terakhirnya baru saja” dokter menjelaskan
seperti itu. Aku berteriak sangat keras “ibuuuuuuuuuuuuuuuu...”. Aku menangis
lagi dan lagi aku lemas hampir tak sadarkan diri semua keluarga menangis. Namun,
yang paling keras menangis hanyalah aku seorang. Semua menenangkanku tapi aku tetap saja menangis dan menangis. Hanya itu yang
kulakukan saat itu. Aku merasa semuanya sia-sia semua perjuangan dari awal untuk
kesembuhan ibu hanyalah sia-sia semata, aku juga belum menyangka semuanya akan
secepat itu . Selasa 27 september 2011 adalah hari paling menyedihkan sepanjang
hidup, kehilangan sesosok yang paling berarti dalam hidup apalagi saat itu
usiaku masih lima belas tahun. Seumur hidup
baru hari itu aku melihat seorang bapakku mengeluarkan air matanya, seumur
hidupnya aku tak pernah melihat bapak menangis tapi saat itu bapak menangis,
mungkin bapak sangatlah sedih kehilangan pasangan hidup yang luar biasa. Ibu
adalah wanita paling hebat dalam keluarga kami. Aku juga merasa kagum kepada bapak
walaupun beliau sedih tetapi beliau tetap menasihati anak-anaknya dan menenangkanku.
Saat ku menangis, wanita baik itu menghampiriku menyuruhku ke ruangan untuk
terakhir kalinya melihat ibu sebelum ibu disiapkan dan dibawa ke rumah duka. “Kakak
terima kasih ya’ panggil dan ucapku padanya.“ Sama-sama dek saya ikut berduka
cita, kamu yang tabah ya” jawabnya. “Aku mengagumimu” responku spontan
kepadanya dan wanita baik itu tersenyum lalu berpamitan pergi. Hari itu ibu
langsung saja dimakamkan. Satu per satu keluarga besar pamit pulang dan tetangga yang melayat pun pulang. Hanya
ada kami bapak kakak kakakku dan kesedihan. Namun, duka itu menjadikan dalam
benakku ingin seperti laki-laki baik dan wanita baik itu. Sesosok yang sangat
baik kepada kami, kepada pasien dan keluarga pasien. Iya mereka adalah perawat,
perawat adalah pekerjaan mulia pekerjaan yang sangat berjasa bukan hanya kepada
pasien namun kepeduliaan mereka kepada keluarga pasien juga luar biasa.
Sejak
saat itu, aku sangat mengagumi seorang perawat, seorang perawat yang memakai seragam
putihnya yang penuh dengan kesucian sama persis seperti jasanya yang suci dan
mulia. Sekarang seseorang yang mengagumi profesi itu telah memutuskan untuk
kuliah di ilmu keperawatan. Iya, akulah orang itu aku ingin melanjutkan
jasa-jasanya kelak, aku ingin menolong orang lain seperti perawat-perawat penolong
ibuku itu. Suatu saat, aku akan membuktikan, dengan ketulusan dan pelayanan
baikku, aku akan seperti mereka yang tidak hanya baik pada pasien, tetapi juga
sangat peduli kepada keluarga pasien. Walaupun sedih, semua ada hikmahnya. Kehilangan
ibu menjadikan ku memilih cita citaku.
Kerangka
Karangan
-
Paragraf 1 :
Menceritakan
awal dari musibah yang dialami keluarga kami. Kronologi mengenai penyebab mengapa
ibu saya harus dibawa ke rumah sakit. Selanjutnya, kemunculan seorang perawat wanita
yang kemudian menjadi inspirasi untuk memilih cita-citaku.
-
Paragraf 2 :
Kondisi
ibu yang makin kritis dan memburuk membuat keluarga kami menjadi sedih dan
panik. Dan akhirnya, ibu harus dipanggil oleh Sang Penciptanya. Kekagumanku terhadap
perawat baik hati juga semakin
bertambah.
-
Paragraf 3 :
Akhirnya
aku memilih untuk mengejar mimpi menjadi perawat, karena ketulusan dan kebaikan
hati perawat yang telah aku jumpai telah benar-benar menginspirasiku.





























