Minggu, 18 Oktober 2015

Kehilangan Ibu, Menjadikan ku Memilih Cita-Citaku

Sabtu sore 25 September 2011 adalah hari dimana terasa mengerikan bagiku aku tak  dapat berkata-kata melihat kejadian itu, tubuh ini lemas sejenak dan segera berlari masuk mobil yang penuh dengan terikan tetangga penuh dengan kekhawatiran. Dengan menangis histeris, aku ikut mengantarkan iringan yang membawa perempuan yang sangat kucintai. Saat itu, aku baru saja memasuki masa putih abu-abu dan masih belum mengerti apapun tetapi seumur itu aku dan bapaklah yang setia menunggui ibu. Seorang kakak laki-laki dan dua orang kakak perempuanku yang sudah berkeluarga tidak langsung datang, karena mereka tengah sibuk dan belum mendengar kabar apa yang terjadi. Rumah sakit pertama adalah RSI Kendal, ibu masuk ruang UGD dan dengan terpaksa ibu harus dirujuk ke rumah sakit Semarang karena rumah sakit Kendal peralatannya kurang lengkap. Setelah lima menit pemeriksaan dilakukan dokter berkata “Pak ibu Emi harus segera ditangani di rumah sakit yang lebih baik” saat itu terjadilah sebuah perdebatan antara om Yah (adik kandung ibu) yang  menginginkan ibu dibawa ke rumah sakit Telogo Rejo dan om Catur (adik ipar ibu) yang menginginkan ibu dibawa ke rumah sakit di Pekalongan. Setelah perdebatan panjang, akhirnya sebuah keputusan di ambil. Wiu wiu wiu wiu wiu... suara sirine terdengar sepanjang jalan. Jarum jam menunjukan pukul 20.00, kami (aku,om Yah,bapak), seorang supir, dan seorang laki-laki baik berada dalam mobil itu. Akhirnya di pertengahan jalan Kendal menuju Telogo Rejo, laki-laki itu berkata “Pak supir tolong lebih cepat lagi, oksigen telah habis!”. Seketika seisi mobil panik, bapak dan Om Yah terlihat menyembunyikan kesedihannya. Laki-laki itu tergesa-gesa  menurunkan ibu, mengurusnya sampai UGD kemudian  ditanganilah ibu dengan dokter . Walaupun tindakan telah dilakukan,  ibu masih tidak sadarkan diri. Saat kejadian naas tersebut, ibu terjatuh dari sepeda beberapa saat setelah dia terbangun ibu tidak dapat berjalan dan nafasnya terasa sesak. Mungkin itulah yang membuat kondisinya parah. “Kunita dimana Kunita dimana?” tiba-tiba terdengar suara dari depan, serombongan keluarga besar datang termasuk om Catur yang  ikut menyusul kami.  Disamping kondisi yang mendebarkan ini, terjadi perdebatan lagi antara om Catur dan om Yah. Keduanya saling menyalahkan. Sementara aku duduk termenung bersender pada tembok biru, aku tak sanggup membayangkan segalanya. Tiba-tiba seorang wanita mendatangiku “Adik  anaknya pasien ICU yang bernama ibu Emi ya?” aku mengangguk cuek, “Adik namanya siapa?” “Kunita” jawabku penuh dengan kejengkelan karena merasa orang ini sok kenal “Adik sudah makan?” aku menggelengkan kepala, “ Ini dimakan ya dek (memberiku sepaket makanan lengkap) jangan nangis lagi berdoa untuk ibu ya, adik juga harus makan biar sehat, kalau dek Kunita butuh kakak nanti kakak pasti datang kok “. Rasanya seperti di tengah kegelapan kemudian tiba-tiba ada cahaya putih datang, seorang wanita yang tak kukenal tapi begitu baik membuat sedikit merasa lebih tenang. Kulangkahkan kaki ini menuju rumah Allah dan kuambil air wudhu. Ku masuki tempat itu, terasa bergetar hati ini menangisku di keheningan malam. Di setiap sujud aku hanya mengharap kesembuhan seseorang yang paling ku sayangi di dunia ini. Masih banyak yang belum ku lakukan untuknya. Aku masih ingin membahagiakannya, harapku pada-Nya. Setelah aku merasa tenang, aku kembali ke depan UGD. Kutemui bapak dan kedua omku. Tak lama kemudian, dokter datang membawa kabar gembira “Pak di Rumah Sakit Mranggen (Demak) masih ada ICU kosong” tersenyumlah semuanya. “Alhamdulilah” jawab bapak dengan senang. Dengan segera ibu dibawa ke rumah sakit itu. Semuanya dilakukan dengan cepat. Tak butuh waktu lama, kami sampai di rumah sakit Demak. Jalan satu-satunya adalah operasi. Yah, dokter berkata demikian, kondisi ibu sudah sangat parah. Terjadi penyumbatan darah dalam otaknya. Tak pikir panjang lagi, kami sekeluarga menyetujui hal itu. Dengan penuh ketegangan, kami menunggui ibu di depan ruang operasi. Hati ini tidak bisa berhenti untuk berdoa. Tubuh ini lemas lagi  ketika dokter keluar dengan membawa kabar bahwa operasi pasien lancar. Namun, kondisi pasien masih tak sadarkan diri.  Aku merasa malam itu seperti malam terburuk. Teng tong.. jam rumah sakit menunjukan pukul 24.00 tepat tengah malam, semuanya masih cemas dan menahan kesedihannya. Bapak menyuruhku tidur, aku hanya menggeleng tak ku jawab sedikitpun. Menangis lagi mata ini, ku duduk bersandar di kursi depan ruangan sunyi sepi. Aku menunduk, menangis, mengeluarkan segala yang kurasa. Aku berpikir bagaimana jika ibu seperti ini, seperti itu, pikiranku melayang-layang tak tentu arah. Lagi-lagi wanita baik itu datang dia menyapaku dengan ramah. “Dek kunita ibunya kami bersihkan ya..sekalian nanti saya ganti bajunya. Aku mengangguk, kali ini aku mengangguk dengan tersenyum dan tidak cuek lagi. Aku merasa wanita itu sabar dan ramah bagaimana mungkin aku cuek, lama kelamaan aku merasa kagum kepadanya dia sangatlah peduli walaupun tidak mengenal kami. “Dek kunita yang sabar ya...terus doakan ibunya” sambungnya. Tak lama kemudian, wanita itu memasuki ruangan ICU tempat ibu dirawat. Tubuh ini refleks mengikutinya dan mengintipnya dari balik pintu. Aku melihat dia begitu lembut. Tak kusangka, dia mengajak ibu berbicara (pikirku bagaimana mungkin seorang yang koma namun diajak berbicara).
Hari berganti, Senin 26 September. Tapi bergantinya hari tidak membuat kondisi ibu membaik, ibu masih belum sadar, tidak ada perubahan apapun, seluruh kerja tubuhnya sudah menggunakan  bantuan alat kesehatan. Pagi itu dokter mengijinkan seluruh keluarga memasuki ruangan. Iya, pagi itu seluruh anggota keluarga besar berada di rumah sakit termasuk ketiga kakakku yang sudah menyusul kami. Satu per satu tetangga yang datang menjengukpun diijinkan masuk namun harus memakai baju khusus dan kondisi badan harus bersih. Setelah bapak dan kakakku, tiba saatnya ku memasuki ruangan itu setelah ku memakai baju khusus berwarna hijau, seorang wanita baik itu menghampiriku dia berkata “Ibunya diajak ngobrol ya dek,  ibunya masih dapat mendengar kok”. “Iya” jawabku singkat sambil tersenyum kecil. Ku berjalan menuju tempat tidur  ibu, aku menangis lagi, mungkin sudah kesekian kalinya sejak ibu jatuh aku terus menangis. Aku menangis sambil mengajak ibuku berbicara“Ibu ayo sembuh , kalau ibu sembuh aku mau jadi anak yang tidak manja lagi aku janji bu” sambil kuciumi tangannya, ku sentuh wajahnya dengan segenap ketulusanku. Tak disangka ibu meresponnya dia menangis matanya mengeluarkan air mata. Aku terkejut tak menyangka seseorang yang koma ternyata juga dapat mendengarkan ucapan kita. Setelah ku merasa cukup, aku keluar dengan pikiran kosong. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi karena dokter juga sudah bekerja maksimal. Aku sudah berpikir hal terburuk yang mungkin akan terjadi. Namun, disela-sela pikiran itu aku masih berharap akan kesembuhan ibu. Senin malam pukul 21.00, hampir semua anggota keluargaku termasuk bapak dan lainnya beristirahat entah karena ketiduran apa benar-benar ingin tidur, yang jelas mereka semua tampak lelah. Sebelum tidur aku sempat berjalan-jalan dan ku menengok ke kamar ibu dari balik kaca pintu, tak  kulihat apapun yang kulihat dalam ruangan itu hanyalah seorang wanita baik itu. Iya wanita baik yang setiap kali menghampiriku dengan senyuman, wanita itu berseragam sama persis dengan laki-laki baik yang mengantarkan kami dari Kendal. Malam itu aku melihat dalam ruang sesosok wanita itu dengan segala ketulusan dan kelembutannya mengabdikan segalanya hanya untuk seseorang yang kami cemaskan, seseorang yang tak dikenalnya. Beberapa menit kemudian, wanita itu keluar ruangan, dia melihatku di depan pintu dan dia tersenyum  mengantarkanku kepada bapakku yang ternyata sudah terbangun, dia juga menyuruhku tidur karena mataku terlihat kurang istirahat, katanya. Memang benar mata ini kurang tidur dan terlalu sering menangis tak heran jika wanita itu berkata demikian.Akhirnya ku tertidur, tetapi tak lama setelah  mata ini terpejam sekitar pukul 3.00 dini hari semua keluarga terbangun. Iya, terbangun karena kabar menyedihkan kabar yang sebenarnya tidak kami harapkan. “Ibu sudah  meninggal” bapak berkata seperti itu. Kondisinya dari jam ke jam semakin kritis akhirnya beliau tidak kuat dan menghembuskan nafas terakhirnya baru saja” dokter menjelaskan seperti itu. Aku berteriak sangat keras “ibuuuuuuuuuuuuuuuu...”. Aku menangis lagi dan lagi aku lemas hampir tak sadarkan diri semua keluarga menangis. Namun, yang paling keras menangis hanyalah aku seorang. Semua  menenangkanku tapi aku tetap  saja menangis dan menangis. Hanya itu yang kulakukan saat itu. Aku merasa semuanya sia-sia semua perjuangan dari awal untuk kesembuhan ibu hanyalah sia-sia semata, aku juga belum menyangka semuanya akan secepat itu . Selasa 27 september 2011 adalah hari paling menyedihkan sepanjang hidup, kehilangan sesosok yang paling berarti dalam hidup apalagi saat itu usiaku masih lima belas  tahun. Seumur hidup baru hari itu aku melihat seorang bapakku mengeluarkan air matanya, seumur hidupnya aku tak pernah melihat bapak menangis tapi saat itu bapak menangis, mungkin bapak sangatlah sedih kehilangan pasangan hidup yang luar biasa. Ibu adalah wanita paling hebat dalam keluarga kami. Aku juga merasa kagum kepada bapak walaupun beliau sedih tetapi beliau tetap menasihati anak-anaknya dan menenangkanku. Saat ku menangis, wanita baik itu menghampiriku menyuruhku ke ruangan untuk terakhir kalinya melihat ibu sebelum ibu disiapkan dan dibawa ke rumah duka. “Kakak terima kasih ya’ panggil dan ucapku padanya.“ Sama-sama dek saya ikut berduka cita, kamu yang tabah ya” jawabnya. “Aku mengagumimu” responku spontan kepadanya dan wanita baik itu tersenyum lalu berpamitan pergi. Hari itu ibu langsung saja dimakamkan. Satu per satu keluarga besar pamit pulang  dan tetangga yang melayat pun pulang. Hanya ada kami bapak kakak kakakku dan kesedihan. Namun, duka itu menjadikan dalam benakku ingin seperti laki-laki baik dan wanita baik itu. Sesosok yang sangat baik kepada kami, kepada pasien dan keluarga pasien. Iya mereka adalah perawat, perawat adalah pekerjaan mulia pekerjaan yang sangat berjasa bukan hanya kepada pasien namun kepeduliaan mereka kepada keluarga pasien juga luar biasa.
Sejak saat itu, aku sangat mengagumi seorang perawat, seorang perawat yang memakai seragam putihnya yang penuh dengan kesucian sama persis seperti jasanya yang suci dan mulia. Sekarang seseorang yang mengagumi profesi itu telah memutuskan untuk kuliah di ilmu keperawatan. Iya, akulah orang itu aku ingin melanjutkan jasa-jasanya kelak, aku ingin menolong orang lain seperti perawat-perawat penolong ibuku itu. Suatu saat, aku akan membuktikan, dengan ketulusan dan pelayanan baikku, aku akan seperti mereka yang tidak hanya baik pada pasien, tetapi juga sangat peduli kepada keluarga pasien. Walaupun sedih, semua ada hikmahnya. Kehilangan ibu menjadikan ku memilih cita citaku.




Kerangka Karangan

-          Paragraf  1       :          
Menceritakan awal dari musibah yang dialami keluarga kami. Kronologi mengenai penyebab mengapa ibu saya harus dibawa ke rumah sakit. Selanjutnya, kemunculan seorang perawat wanita yang kemudian menjadi inspirasi untuk memilih cita-citaku.
-          Paragraf  2       :
Kondisi ibu yang makin kritis dan memburuk membuat keluarga kami menjadi sedih dan panik. Dan akhirnya, ibu harus dipanggil oleh Sang Penciptanya. Kekagumanku terhadap perawat baik hati  juga semakin bertambah.
-          Paragraf  3       :
Akhirnya aku memilih untuk mengejar mimpi menjadi perawat, karena ketulusan dan kebaikan hati perawat yang telah aku jumpai telah benar-benar menginspirasiku.


0 komentar:

Posting Komentar