Mahasiswa merupakan masa peralihan antara masa remaja ke masa dewasa. Masa peralihan ini membuat banyak dari mahasiswa yang belum dapat beradaptasi dengan lingkungan dan tata cara kehidupan di lingkungan barunya. Pola makan yang belum teratur merupakan suatu masalah mayoritas dari para mahasiswa (Suharjo ,1989). Sebagian besar mahasiswa berasal dari luar kota yang menjalani hidup sebagai anak kos. Kebanyakan dari mereka menjalani perilaku atau pola konsumsi makanan yang tidak teratur dan jauh dari kata sehat. Hal ini diakibatkan oleh banyak faktor seperti kegiatan yang sangat padat, kekurangan segi ekonomi, kurangnya kepedulian tentang kesehatan dari makanan dan lain sebagainya.Hal tersebut akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan dari yang sedang hingga yang berat yang tentu saja akan menghambat mahasiswa dalam proses belajarnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Institute Pertanian Bogor ditemukan berbagai faktor penyebab terjadinya pola hidup yang tidak sehat bagi mahasiswa yang hidup secara kost.
Faktor pertama yaitu jenis kelamin.
Mahasiswa laki-laki bedasarkan penelitian mempunyai kesempatan makan secara
teratur tiga kali sehari dibandingkan dengan mahasiswa perempuan. Alasannya dikarenakan kebutuhan
energi yang dibutuhkan oleh laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan
perempuan. Hal ini juga sesuai dengan
pernyataan bahwa kandungan 50 gram protein dan kandungan 1900 kkal energi diperlukan oleh
wanita setiap harinya sedangkan kandungan 60 gram protein dan 2550 kkal energi
diperlukan oleh pria kurang lebih jangka usia antara 19 tahun sampai 29 tahun
setiap harinya (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004). Mahasiswa perempuan
cenderung banyak yang bertubuh kurus dan jika dibandingkan dalam penelitian mahasiswa
laki-laki juga lebih banyak mengalami obesitas ( Mustope,2003)
Faktor kedua adalah kondisi ekonomi
keluarga. Mahasiswa dengan kondisi ekonomi keluarga menengah ke atas akan mempunyai
kesempatan makan teratur dan bergizi tiga kali sehari dibandingkan dengan
mahasiswa yang berasal dari golongan keluarga menengah ke bawah. Perilaku konsumsi tersebut juga tidak terlepas dari
gaya hidup seperti yang dijelaskan oleh
Sundari (2003), bahwa status kandungan gizi, jadwal konsumsi dan tingkat
konsumsi , ketiga hal tersebut dipengaruhi oleh
gaya hidup. Mahasiswa yang berada pada zona gaya hidup yang mengacu
pada hiburan dan kesehatan cenderung lebih memilih memanfaatkan uang
yang dimilikinya untuk kepentingan jalan-jalan saja sedangkan mahasiswa yang
berada pada zona gaya hidup yang mengacu kepada pendidikan lebih memilih menggunakan
uangnya untuk keperluan belajar. Pada intinya selain memang kebanyakan
mahasiswa dari segi ekonomi kekurangan
uang yang dapat menghambat pola makan dan gizi yang mereka dapatkan ternyata 2
gaya hidup yang dijelaskan diatas juga dapat menghambatnya, tentunya ini sangat
tidak diharapkan karena sebagai harapan bangsa seharusnya kebutuhan gizi
mahasiswa terpenuhi.
Faktor ketiga adalah umur mahasiswa.
Semakin tinggi umur mahasiswa maka semakin banyak kesempatan mahasiswa tersebut
menjalani pola makan secara teratur dan bergizi dibandingkan dengan mahasiswa
dengan umur yang lebih muda. Hal ini dikarenakan pola pikir dan tanggung jawab
mahasiswa usia dewasa lebih banyak pengalaman dibandingkan mahasiswa usia muda. Sesuai dengan penelitian bahwa usia,jenis kelamin,
status pernikahan, dan pendapatan
merupakan beberapa hal yang berdampak pada pola konsumsi makanan di Thailand (Suwanvijit dan Promsa-ad ,2009)
Faktor keempat yaitu pengetahuan.
pengetahuan gizi dan kebiasaan untuk menghargai makanan yang kurang dapat
menimbulkan masalah gangguan nutrisi. Banyak orang yang tidak memahami zat gizi
yang terkandung dalam makanan dan fungsi zat gizi tersebut di dalam tubuh.
Seseorang yang tidak mengetahui prinsip dasar gizi dan tidak sadar akan gizi
yang terkandung dalam makanan akan kesulitan dalam memilih makanan yang
dibutuhkan oleh tubuh. Yang paling disukai
remaja adalah kue-kue manis dan cemilan tidak berat lainnya (Hurlock,1980).
Menurut pandangan saya sebaiknya usia -usia
mahasiswa lebih baik mengonsumsi makanan bergizi dan sehat misalnya sayur
sayuran dan buah-buahan segar,.karena seperti yang dikatakan oleh Sop et al., (2010) ,yang menjelaskan jika
konsumen remaja yang mengonsumsi
sayur-sayuran dan buah-buahan masih tergolong kecil. Suhardjo (1989),
juga mengharapkan supaya zat gizinya terpenuhi dengan bagus maka remaja atau
mahasiswa juga sebaiknya memiliki pola makan yang bagus.
Faktor keempat adalah teman sebaya (Anita Saufika, 2012 ) .
Teman sebaya dapat mempengaruhi seseorang dalam mengkonsumsi makanan. pemilihan
makanan tidak lagi didasarkan pada kandungan gizi melainkan hanya bedasarkan
bersosialisasi, untuk kesenangan, dan tidak kehilangan status. Ada dua faktor yang mempengaruhi kebiasaan sarapan
yaitu tinggal sendiri ataupun indekos (Jelinic, Nola, dan Matanic ,2008).
Selain itu Phujiyanti (2004), memaparkan
bahwa jadwal makan siang dan makan malam lebih sering dilakukan mahasiswa daripada jadwal sarapan.
Faktor-faktor tersebut tentu saja
jika dibiarkan terus menerus dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan akan
menyebabkan berbagai macam penyakit yang akan datang cepat ataupun lambat.
Nutrisi atau zat gizi makanan merupakan kunci dalam pemeliharaan tubuh.
Pemilihan zat gizi yang buruk ditambah pola kehidupan yang kurang baik merupakan
faktor risiko untuk penyakit
kronik yang mematikan atau
mengancam
hidup seperti, kardiovaskuler, stroke, hipertensi, dan gangguan kehamilan.
Tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi di usia muda membuat individu tersebut
dapat menerima dampaknya diusia selanjutnya, seperti kerapuhan tulang yang
dapat menyebabkan fraktur ataupun osteoporosis. Kurang mengkonsumsi zat besi
juga dapat menyebabkan anemia. Sementara itu, mengkonsumsi suplemen seperti,
vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C, ataupun kalsium yang berlebihan juga
mempunyai dampak yang negatif.
Sebagai
penghasil energi, pembangun sel-sel dalam tubuh, dan pelindung tubuh atau
penjaga kesehatan tubuh yang didalamnya terdapat kandungan-kandungan gizi dan unsur atau ikatan kimia serta merupakan bahan kecuali obat adalalah
fungsi dari suatu makanan (Almatsier, 2006:3) . Makanan merupakan hal yang sangat penting untuk
kehidupan manusia, terlebih lagi sebagai seorang mahasiswa yang mempunyai aktifitas tinggi setiap
harinya, maka diharapakan mahasiswa hendaknya hidup sehat dimulai dengan pola
makan yang teratur dan bergizi karena apabila gizi tidak terpenuhi maka mahasiswa
akan rentan terkena penyakit dan segala akifitas dan proses pembelajarannya
otomatis akan terganggu. Budaya makan setiap individu dalam setiap 24 jam
disebut dengan pola makan (Khasanah, 2012:164). Apabila pola makan kita salah
dapat menyebabkan beberapa penyakit diantaranya
diabetes mellitus, hiperkolesterolemia ,kanker, penyakit arteri coroner
sirrhosis, osteoporosis dan beberapa penyakit kardiovaskuler Anonym (2009) ,
menjelaskan jika alasan pola makan yang salah merupakan alasan 50 orang dari
100 orang yang menyebabkan kematian
dini dari serangan-serangan yang
disebutkan diatas.
Hal
yang paling dekat dengan usia mahasiswa apabila mahasiswa tidak menerapkan pola
makan yang benar maka kebanyakan dari mereka banyak yang mengalami nyeri lambung atau disebut dengan maag
(penyakit yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat . Pola makan yang
salah dan cenderung tidak memperhatikan apa yang dimakan dan makan tidak tepat waktu merupakan
penyebab dari penyakit maag (Almatsier 2005:112). Selain hal-hal diatas
penyebab maag lainnya yaitu frekuensi makan seperti yang telah dianjurkan frekuensi makan
yang baik adalah makan tiga kali sehari
jika mahasiwa makan kurang dari
tiga kali sehari setiap harinyan hal ini terjadi secara terus menerus
maka kemungkinan besar mahasiswa akan terkena penyakit maag. Pola makan yang
bagus yaitu makan malam sebelum terlelap, makan siang sebelum ada stimulus
keinginan untuk makan dan makan pagi sebelum melakukan kegiatan (
Warmbrand,2000) . Gejala –gejala maag diantaranya perut kembung, perih, nyeri, dan mual . Kebiasaan
buruk mahasiswa lainnya yakni sering mengonsumsi makanan yang terlalu pedas,
asam, mengandung gas, berbumbu berlebihan dan berlemak tinggi hal ini tentu
tidak baik untuk pencernaan makanan. Berikut merupakan beberapa makanan yang
dianjurkan ataupun yang tidak dianjurkan sebagai penderita maag. Pisang,pir
papaya yang merupakan buah-buahan tidak bergas,bayam, labu siam ,wortel yang
termasuk ke dalam sayur-sayuran tidak
bergas dan tak berserat tinggi nasi lunak,roti, biscuit,krekers sebgai sumber
energi yang mudah dicerna cara pengolahan protein dengan direbus,
dipanggang ataupun ditumis serta
minuman seperti the dan susu adalah jenis-jenis makanan yang sangat dianjurkan
bagi penderita maag. Sedangkan buah-buahan yang mengandung gas dan mempunyai
banyak serat seperti kedondong,jambu biji, nangka, dan buha-buahan masam, makanan
bergas seperti tapai, coklat, jeroan,gorengan , makanan berlemak juga makanan berkabohidrat yang tidak mudah dicerna misal nasi keras,
beras ketan, jagung, talas, cake, kue tart serta makanan berprotein yang digoreng dan dimasak
gulai itu semua sangat tidak diperkenankan untuk dikonsumsi oleh penderita
maag. Tentulah sulit bukan ? jika kita sudah terkena maag itu akan sangat
merepotkan bagi diri kita sendiri banyak
makanan pantangannya, oleh karena itu mari jaga kesehatan dengan baik karena
sehat itu indah, apabila kita sakit maka segala aktifitas dapat terhambat
segalanya tidak akan berjalan sesuai rencana dan pastinya sebagai
mahasiswa jika semuanya terhambat maka
juga akan berdampak pada prestasi kita. Dengan makan secara teratur dan asupan gizi terpenuhi dapat membuat kita
lebih konsentrasi belajar dan baik untuk kesehatan marilah hidup teratur dan
hidup sehat.
Daftar Pustaka
Anita Saufika, Retnaningsih, A. (2012). Scripts and
Hypnotherapy. Gaya Hidup Dan Kebiasaan Makan Mahasiswa, 5, 9.
Ririn Fitri. (2013).Deskripsi Pola Makan Penderita
Maag pada Mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas
Negeri Padang, Padang , Universitas Negeri Padang.







0 komentar:
Posting Komentar